Selasa, 26 Juli 2011

+ My Mama Monster: Forever

+ Album of The Day: Transformers: Dark of the Moon – The Album



Kerjasama duo produser-sutradara Steven Spielberg dan Michael Bay yang sukses dengan film adaptasi animasi Transformers berlanjut sampai seri ketiganya yang kini diberi judul Transformer: Dark of the Moon. Meski tidak jelas apakah film ini akan tayang di Indonesia atau tidak, dikarenakan kisruh peraturan film yang tengah menjadi opini publik, tidak ada salahnya kita menyimak kumpulan artis yang menyumbangkan lagu-lagu mereka sebagai bagian dari album soundtracknya.
Sama halnya dengan dua film sebelumnya, Transformers: Dark of the Moon tetap mengundang nama-nama yang berasal dari skena musik rock-alternative untuk mengisi album ini. Keriuhan dalam distorsi gitar yang ekspresif, ketukan drum yang menggebu dan vokal-vokal gahar yang berteriak adalah hal-hal yang pasti akan didengar saat album ini diputar.
Namun, Linkin Park yang telah hadir semenjak di album soundtrack filmnya, justru hadir membuka album ini dengan nomor lembut yang sangat menyejukkan. Iridescent mungkin masih menangkap elektornika sebagai esensi materi lagu akan tetap dengan vokal Chester Benington yang terdengar lirih, membuat single yang dibantu produseri oleh Rick Rubin ini terdengar sangat sendu dan subtil.
Memasuki track kedua, Paramore segera menghentak dengan Monster milik mereka, yang seolah menjadi personifikasi dari esensi film laga-fantasi tersebut dan Paramore memberikan aransemen rock mereka dengan tepat guna dalam tempo medium. Ada saat vokal Hayley berteriak namun disaat lain bernyanyi dengan cukup lirih. Tensi kemudian makin dinaikkan dengan kehadiran rock-opera dengan pengaruh elektro-pop diawalnya ala My Chemical Romance dalam The Only Hope for Me Is You. Dilanjutkan dengan nomor murung, Faith (When I Let You Down) yang tidak melupakan ciri khas Taking Back Sunday yang menampilkan distorsi gitar dan gebukan drum yang intens namun tetap dalam sentuhan emo yang solid, sehingga lagunya tidak terdengar terlalu bising.
Rasanya sudah cukup lama tidak mendengarkan materi baru dari band alternative dengan pengaruh grunge ternama, Staind dan beruntung album ini menampung single baru mereka, The Bottom yang nantinya akan terdapat dalam album baru mereka, Seven (2011). Salah satu band bergaya post-grunge namun dengan sentuhan hard-rock kental, Art of Dying menyusul dengan single Get Thru This. Selanjutnya, Goo Goo Dolls mempersembahkan sebuah lagu pop-rock manis dalam tempo sedang dan meski tidak semelodrama Iris, akan tetapi vokal gahar John Rzeznik kini terdengar lebih santai dan sedikit sendu. Riff gitar bertugas sebagai teman melodi untuk lagunya yang memang terdengar sangat harmonis, dimana unsur string menambah kesan romantisnya. Dalam koridor rock ala Goo Goo Dolls, tentu saja
Band asal Kanada, Theory of a Deadman, menyumbangkan Head Above Water dari album up-and-coming mereka, sebuah rock-mid-tempo yang melodik dan sing-a-long yang manis. Untuk menambah semarak, tidak ada salahnya band post-hardcore seperti Black Veil Brides untuk menyumbangkan Set the World on Fire milik mereka untuk menambah riuh album ini, sedangkan Skillet yang terkenal dengan aliran alternative-metal mereka memberi Awake & Alive dan kehadiran band progresive metal seperti Mastodon terasa tepat untuk menutup album ini. Just Got Paid seolah-olah bermain sebagai klimaks yang dipenuhi dengan semangat dan meledak-ledak.
Meledak-meledak mungkin istilah yang cukup tepat untuk album Transformers: Dark of the Moon – The Album ini. Duo produser Randy Spendlove dan Livia Tortella cukup cerdik untuk tidak melulu mencari materi dari album-album baru saja akan tetapi cukup rajin untuk membongkar-bongkar koleksi reportoire lama, sehingga album ini tidak melulu menjadi sebuah album promosi akan tetapi sebuah album kompilasi yang cukup cemerlang dalam menyusun daftar penyumbang materinya. Apalagi dengan barisan pendukungnya yang terdiri atas nama-nama populer dan juga relatif tidak terkenal, membuat album terasa cukup eklektik dan tidak terlalu pasaran. Pada akhirnya, Transformers: Dark of the Moon – The Album tidak melulu hanya sebagai sebuah album soundtrack akan tetapi juga sebuah album yang mencatat kegemilangan rock itu sendiri. Direkomendasikan!

+ Single of The Day: Lady Gaga – The Edge of Glory



Dibuka dengan bunyi degup jantung, The Edge of Glory kemudian disusul oleh vokal Lady Gaga yang jelas terpengaruh oleh keriuhan vokal rock dan diiringi musik olahan synth. Gaga pun bernyanyi:
There ain’t a reason you and me should be alone tonight, yeah baby / Tonight, yeah baby / I got a reason that you should take me home tonight.”
Beat pun kemudian mulai bergerak dalam tempo yang semakin cepat. Puncaknya saat di chorus ia berteriak lantang dengan tarikan suara yang biasa kita dengarkan dari lagu-lagu pop-rock di era 80-an.
Pada awalnya The Edge of Glory diniatkan hanya sebagai single promosi untuk perilisan album kedua Lady Gaga, Born This Way. Namun dengan sambutan yang sangat positif untuk single ini, tidak heran Gaga kemudian merilis The Edge of Glory sebagai single resmi ketiga. Sebuah keputusan yang tidak salah memang, karena single yang ditulis dan diproduseri oleh Lady Gaga, Fernando Garibay dan DJ White Shadow ini terdengar sangat cerah, berbanding terbalik dengan single-single sebelumnya. Menjelang akhir, pengaruh smooth jazz merasuk dengan penggunaan saxophone yang dimainkan oleh Clarence Clemons.
The Edge of Glory terdengar cukup berbeda dengan kebanyakan single Gaga yang kita kenal. Tidak ada penggunaan auto-tunes yang massif disini dimana Gaga cenderung mengandalkan vokalnya secara lebih murni; tidak ada narsisme dengan Gaga-isme seperti yang terdapat dalam Poker Face, Bad Romance atau Judas; dan kita dapat merasakan Gaga menyanyi dengan lebih jujur dan subtil, meski unsur dansa masih tetap berperan besar di single ini.
Gaga menulis single ini sebagai penghormatan terhadap kakeknya yang telah meninggal. Terinspirasi disaat-ssat terakhir sang kakek, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Gaga ingin menangkap momen kenangan bersama kakeknya tersebut dalam sebuah lagu yang melodius sekaligus inspiratif. Apakah berlebihan jika kita kemudian menyebut The Edge of Glory adalah sebuah pop-anthem yang hebat? Bisa saja. The Edge of Glory sekaligus membuktikan jika Gaga adalah artis dengan versalitas yang cukup mumpuni.
Lihat videonya disini

+ Top 10 Music Videos: Rihanna



10. California King Bed
Rihanna terlihat sangat cantik dengan balutan lingerie dengan seorang model pria disebuah tempat tidur yang sangat besar, bukan hanya itu alunan musik yang sangat menyentuh serta pembawaan Rihanna yang sangat mengahayati setiap adegan, membuat video tersebut sangat menarik. Suasana Sunset California yang sangat kental membuat video ini sangat beda dengan video clip Rihanna sebelumnya, dengan Set video sebuah kamar tidur yang sangat cantik dan mewah membuat perbincangan dan mendapatkan sanjungan dikalangan Designer Interior ternama. Lihat Videonya disini

9. SOS
SOS merupakan debut single dari album keduanya A Girl Like Me yang langsung sukses nangkring di jawara 1 Hot Billboard 100 US. Musik yang club banger dan energik menjadikan ciri khas dari musik video SOS. Video yang digarap oleh Chris Applebaum. Musik video yang disetting unik dan sexy ini sangat direkomendasikan untuk ditonton. Rihanna makin banyak menggunakan dance yang sexy dan energik di video ini dan tak luput dengan style kostumnya yang mencirikan Gadis Pulau. Lihat Videonya disini

8. Umbrella
Rihanna datang kembali dengan wajah barunya pada album ketiga Good Girl Gone Bad dengan debut single yang sukses spektakuler dan diterima diseluruh pelosok dunia. Tentunya dibarengi dengan musik video yang fenomenal yang digarap oleh Chris Applebaum. Siapa yang tidak kenal Umbrella video? Pasti semua orang tahu. Temanya sangat unik dan Rihanna tampil diluar zona nyamannya dengan kostum serba hitam sexy beserta payungnya menari diatas kembang api, scene menari dengan efek tumpahan air, dan scene dimana Rihanna tampil naked dengan seluruh badan dibaluri silver efek. Video umbrella juga meraih Video Of The Year MTV Video Music Awards 2008. Lihat Videonya disini

7. Don’t Stop The Music
Rihanna kembali menggemparkan dunia musik, single ke-4 dari Good Girl Gone Bad ini mempunyai konsep video yang sama dengan SOS dan Pon De Replay. Bersetting di sebuah club yang berada dibelakang Candy Store, Rihanna datang ke Candy Store dengan simple mini dress dan masuk untuk berpesta. Di video ini untuk pertama kalinya Rihanna menjadi co-director dengan director : Taj. Bagi yang menonton video ini pasti akan terhipnotis dengan scene dance yang sangat natural dan suite dengan musik. Video ini mengambil konsep Club tahun 90-an, berbeda dengan SOS dan Pon De Replay. Lihat Videonya disini

6. Take A Bow
Take A Bow sebagai debut single dari album Good Girl Gone Bad Reloaded langsung meraup sangat sukses dengan langsung masuknya ke posisi nomor 1 Hot Billboard 100 US. Di video kali ini Rihanna tampil dengan gaya rambut baru dan dengan style tomboy, video Take A Bow digarap oleh Anthony Mandler. Video ini terlihat sangat simple dan sangat ekspresif dengan gaya khas Rihanna yang tomboy namun tetap classy. Video ini menggunakan model laki-laki sebagai pria yang terus memohon kepada Rihanna untuk dimaafkan. Lihat Videonya disini

5. Disturbia
Kali ini Rihanna tampil dengan gaya yang sangat spooky dan super sexy. Yap, Disturbia menggunakan konsep seperti Michael Jackson video “ Thriller”. Video yang digarap Anthony Mandler ini banyak mendapat pujian karena konsepnya yang unik, dark dan sexy. Rihanna berperan sebagai zombie dancer yang fantastic. Koreografi video ini dipegang oleh Tina London, alhasil dance-dance ala zombie yang sangat unik ada di video ini. Scene paling favorite ketika Rihanna datang dengan tarian zombie beserta zombie dancer lainnya, selain itu scene dimana Rihanna berada di dua tembok dengan kostum semi nude beserta tarantula-tarantula. Di video ini Rihanna sangat total. Lihat Videonya disini

4. Russian Roulette
Rihanna hadir kembali dengan album barunya yaitu Rated R yang bernuansa dark. Anthony Mandler kembali menjadi kepercayaan Rihanna untuk membuat video ini. Russian roulette merupakan video yang sangat cinematic dan dramatic. Rihanna tampil dengan wajah sedih beradu akting dengan lawan main yang mengambil model laki-laki juga sebagai pemain. Adegan favorite disini ketika Rihanna berada didalam air dan banyak peluru datang menembak dan Rihanna bersimbah darah. Russian Roulette merupakan video ter-dark yang pernah Rihanna buat. Lihat Videonya disini

3. Rude Boy
Rupanya Rihanna tidak mau lagi terlihat muram dan sedih, di video Rude Boy ini Rihanna tampil sangat sexy, naughty dan ceria. Video yang digarap oleh Melina Matsoukas ini mengambil tema Jamaican Reggae, dengan warna-warni khas Jamaica serta dance yang sangat unik. Video ini paling berbeda dari video Rihanna yang lain, karena seluruh video menggunakan efek animasi yang colourful. Video ini juga menjadi video yang paling sering diputar di MTV selama tahun 2010. Congrats Riri!! Lihat Videonya disini

2. Only Girl (In The World)
Rihanna kini tampil dengan gaya baru dan album baru yaitu LOUD. Only Girl sebagai debut pertama langsung meraup sukses di seluruh dunia. Video ini kembali digarap oleh Anthony Mandler dengan konsep yang sangat unik. Rihanna benar-benar menjadi The Only Girl In The World, Rihanna berada di padang bunga menari-nari dan berada di ayunan yang berada ditengah padang pasir. Video ini sangat indah untuk dilihat dan untuk pertama kalinya Rihanna tampil dengan gaya rambut merah. Lihat Videonya disini

1. S&M
S&M merupakan video terkontroversial yang pernah Rihanna buat. Video yang digarap oleh Melina Matsoukas ini sampai dibanned di 11 negara karena dianggap terlalu vulgar. Jika anda melihat video ini, sebenarnya Rihanna tidak tampil telanjang melainkan hanya adegan-adegan nakal seperti mencambuk press dan adegan makan pisang yang dianggap terlalu vulgar. Namun secara keseluruhan video sangatlah bagus dengan konsep yang unik dan colourful. Di video ini juga melibatkan Perez Hilton (Gossip Blogger terkenal) sebagai cameo. Rihanna pun bilang kalau video ini merupaka video terbaiknya yang selama ini pernah dibuat. Lihat Videonya disini

+ Album of The Month: Jessie J – Who You Are


Image and video hosting by TinyPic
Jessie J membutuhkan waktu seumur hidupnya untuk mengumpulkan inspirasi, membuat konsep, dan menyajikan musik untuk album perdananya ini. “Who You Are” adalah luapan personal yang bisa dihadirkan oleh Jessie bagi penikmat musik. Enggak mesti mengotakkan mereka yang suka pop, folk, rock, maupun hip-hop, Jessie dengan cermat mengkompilasi semuanya dalam paket berisi 13 track yang punya satu ciri, yaitu current. Siapapun dikasih kesempatan untuk punya minimal satu lagu favorit dari album ini. Contohnya aja ‘Price Tag’. Single andalan dari album yang rilis pada Februari lalu yang menampilkan rap dari B.o.B ini aja banyak banget penggemarnya. Karena dari musik dan liriknya juga like-able.
Sejak Natasha Bedingfield hadir sebagai vokalis cewek super seru di Inggris, rasa-rasanya kita enggak pernah kehabisan vokalis cewek yang punya aura serupa. Sebut saja Amy Winehouse, Pixie Lott, Ellie Goulding, dan sekarang Jessie J. Masing-masing punya ciri yang lekat dengan karakter musik dan vokalnya. Kalau untuk Jessie, dia punya bakat alami menghipnotis (atau terkadang menginspirasi) lewat liriknya. Seperti ‘Nobody’s Perfect’ dan ‘Who You Are’ yang secara nyata memandu kita untuk mencintai diri sendiri dan tetap melakukan yang terbaik. Yes, she has mad vocal which will blow you away. Keunikan yang ada di vokalnya juga diimbangi dengan kemampuannya mencapai nada-nada tinggi, sehingga nyanyiannya sangat berkesan. That mad vocal juga bisa kita temui di ‘Big White Room’ dan ‘I Need This’.
Keberagaman musik akan membuat kamu enggak bosan mendengarkan album ini. Udah pada dengar ‘Do It Like A Dude’ kan? Hit single ini yang rilis sejak tahun lalu ini memang tiada duanya. Di dalamnya kita mendengar erangan gitar elektrik berbumbu beat R&B dan hip-hop yang dinamis dan vokal Jessie yang unik itu benar-benar menghias sempurna lagu ini. It’s my most fave track in the album! Enerjik serupa akan ditemui di ‘Who’s Laughing Now’, ‘L.O.V.E’, dan ‘Rainbow’. Keseriusannya memadu komposisi musik bisa dinikmati dalam ‘Casualty Of Love’ dan ‘Mama Knows Best’. Disini Jessie mengambil jalur pop dengan fuse soul dan jazz. Impressive, really! Jika diambil kemiripan, maka Natasha Bedingfield dan Pixie Lott-lah yang terdekat dengan Jessie J. Itu sangat terasa di ‘Stand Up’ dan ‘Abracadabra’.
Jessie mesti bangga atas kemampuannya mencipta album ini. Sebagai singer-songwriter, memang pencapaian tersendiri mampu membawakan lagu-lagu hasil pemikiran pribadi dengan interpretasi tepat terhadap apa yang dinyanyikan. Dan dirinya pun disokong dengan keberadaan orang-orang yang terkenal sebagai hit maker di indurstri musik untuk ini, di antaranya Dr. Luke dan Toby Gad. Bahkan sebelum kehadirannya secara utuh dengan “Who You Are”, dirinya sudah mendapat simpati dari media sehingga dianugerahi The Next Big Thing di tahun 2011 ini. This album is exquisite. Dan apapun pilihan sebagai single selanjutnya, ‘Abracadabra’, ‘Nobody’s Perfect’, atau ‘Casualty Of Love’, ketiganya bisa stand out dan kembali memberi hit pada seorang Jessie J.

+ Single of The Day: Katy Perry – Last Friday Night (T.G.I.F.)



Pertama kali mendengar lagu ini, entah kenapa saya begitu yakin Katy Perry bakal menelurkannya sebagai single. Dan, ya, terbukti! Last Friday Night menjadi single kelima di album Teenage Dream. Ada kemungkinan akan menjadi single penutup, meskipun tidak ada pemberitahuan khusus.
Sesuai nama albumnya, lagu ini ‘teenage’ banget.
Last Friday Night
Yeah, we danced on table tops
And we took too many shoots
Think we kissed, but I forgot

Menceritakan tentang gila-gilaan di malam jumat. All about party. Mabuk-mabukan dengan strange people. Menari-nari di atas meja bar. Melanggar peraturan. Liar!
Lagu ini dikemas dengan apik. Dance pop tak lagi sama ketika kamu mendengar lagu yang diproduseri Max Martin dan Dr. Luke ini. Elemen-elemen disko 80-an tak meninggalkan kesan jadul. Katy Perry membawakan lagu ini dengan santai, memaksa tubuh kita untuk ikut bergoyang. Belum lagi dengan saksofon yang menggema di bagian bridge, membuat lagu semakin terdengar seksi. Sungguh, lagu ini berpotensi menduduki ‘kursi tertinggi’ di segala chart.
Last Friday Night bukanlah lagu yang pantas untuk dipraktekan. Cukup pasang headsetmu, putar lagu ini, rasakan beat-nya, dan semua masalahmu akan terlupakan.
Lihat videonya disini.

+ Single of The Day: Nicole Scherzinger feat 50 Cent – Right There



Enggak dipungkiri saat mendengarkan ‘Right There’ milik Nicole Scherzinger dan 50 Cent ini berasa Rihanna dimana-dimana. Seperti penggabungan ‘Rude Boy’ dan ‘What’s My Name’, single terbaru Nicole dari debut album “Killer Love” ini secara nyata menjelma terdengar memiliki kemiripan dengan kedua single Riri tersebut. Well hey, mungkin faktor penentunya adalah keberadaan Ester Dean dalam credit penulisan lagu. Corak itu terasa kuat, tidak hanya berpengaruh pada sound music di dalam lagu, tapi juga pada vokal Nicole yang tak ubahnya berdendang dengan cara Riri. Tapi jangan lantas ngecap kalau Nicole justru kehilangan jati diri. Kemiripan tersebut bisa kita anggap sebagai formula “hit” yang bisa aja memberi lagu #1 lagi buat Nicole.
Tantangan terbesar Nicole dalam karir solonya pastilah melepaskan segala embel-embel The Pussycat Dolls yang sangat melekat pada dirinya. Sejauh ini, dia sudah membuktikan eksisnya nama pribadi lewat ‘Poison’ dan ‘Don’t Hold Your Breath’. Tapi itu baru di UK. Di kampung halamannya sendiri, ‘Right There’ ini yang dijadikan senjata peluncur, single andalan dari debut albumnya yang akan dirilis kemudian di US.
Pusaran musik R&B yang menggoda mengalir. Drum beat yang konstan terdengar di bagian verse dan chorus juga bridge memantapkan corak urban di dalamnya. Sexy, smooth, apalagi suara gitar sebagai intro lagunya, sedap banget! Enggak mikir 2 kali untuk ngaku suka ke lagu ini. Terlebih, hook nan catchy di setiap “come here baby e be my baby e be my baby” dan “keep it right there, keep it right there” yang tersedia di bagian chorus gampang tertanam di otak. Plus, bagian bridge yang interaktif mengajak pendengar untuk ikut serta berdendang bersama , “lemme hear you say yeah…”.
Oh iya, jangan lupa untuk menyaksikan video klipnya yang sekali lagi menunjukkan betapa senangnya Nicole tampil di depan kamera, yang bisa aja kamu sebut sebagai bentuk narsis. She’s pretty, anyway. Tapi bukan itu aja, di video ini kamu juga bisa menyaksikan gerakan dance Nicole yang handal. Plus kehadiran 50 Cent di dalamnya. Cap jempol buat Nicole dan single terbarunya ini. Enggak cuma eksis, tapi juga nge-hits!
Lihat videonya disini

+ Single of The Day: David Guetta featuring Flo Rida & Nicki Minaj – Where Them Girls At?


DJ sekaligus produser musik tenar, David Guetta udah punya daftar artis yang akan berkontribusi untuk album terbarunya nanti. Dan agak-agaknya, daftar ini nantinya akan lebih meriah dibanding album David sebelumnya. Nah, sebagai pemanasan, dirilislah single ‘Where Them Girls At?‘ yang menampilkan Flo Rida dan Nicki Minaj. This is really interesting. Karena meskipun keduanya adalah rapper, tapi keduanya juga bernyanyi. Rame kan?! Pastinya.
Meskipun demikian, ada kesan kalau di lagu ini Flo dan Nicki enggak akur, sehingga diciptakanlah bagian buat masing-masing untuk unjuk gigi. Ternyata, kesan ini muncul karena versi awalnya hanya bermuatan vokal Flo saja, dan kemudian ditambahkan vokal Nicki atas request sang DJ yang di-approve oleh rapper Cash Money tersebut. Jadilah kolaborasi apik ini.
Keberhasilan David enggak berhenti sampe situ aja, karena berikutnya, musik dance yang diolahnya di single ini adalah gabungan eurodance dengan R&B. Beat-nya terdengar fresh, intronya sedikit mengingatkan dengan hit Cobra Starship ‘Good Girls Gone Bad’. Bagian verse milik Nicki jauh lebih mengesankan dibanding milik Flo. Ini karena campuran hentakan-hentakan musik R&B sebagai kejutan yang membuat takjub di pertengahan lagu. Kalaupun porsi yang Nicki dapat di dalamnya hanya sedikit, tapi dia membuat dampak yang besar. Memang jauh lebih menarik ketimbang verse bagian Flo yang terlalu generic.
Secara keseluruhan, ‘Where Them Girls At?’ bisa dimasukkan dalam jajaran lagu yang memperkuat keberadaan David Guetta sebagai DJ yang handal dan produser musik yang kreatif. Enggak hanya mampu menghasilkan keunikan dalam hentakan musik dance yang ia kreasikan, tapi artis-artis yang diajaknya bekerjasama selalu mengesankan. Jadi untuk sekarang, enggak usah banyak tanya where them boys and girls at? Karena jawabannya mutlak ada saat kamu tekan tombol play untuk lagu ini.

+ Single of the day : Simple Plan – Jet Lag (feat. Natasha Bedingfield)


Simple Plan mengatakan bahwa lagu ini merupakan ‘the real official single‘ untuk album terbaru mereka. Tidak cukup sampai disitu, Simple Plan juga merelease 2 versi lainnya untuk single ini dengan menampilkan 2 guest vocal yang berbeda yaitu Marie-Mai yang menyanyikan lagu ini dalam bahasa Perancis dan Krystl yang menyanyikannya dalam bahasa Belanda. Kalau anda masih belum puas dengan hal tersebut, Simple Plan sudah merelease 2 versi untuk music videonya yang menampilkan Natasha Bedingfield dan Marie-Mai, untuk kolaborasi mereka dengan Krystl sejauh ini belum ada kabar apakah juga akan dibuatkan juga music videonya.
Melihat lebih jauh ke dalam lagu berdurasi 3:25 ini, Jet Lag diproduseri oleh Brian Howes dan lyricnya ditulis oleh Simple Plan sendiri dibantu oleh Chuck Comeau. Lagu ini masih berada dalam ranah Pop Punk seperti kebanyakan lagu-lagu Simple Plan lainnya tetapi hal tersebut tentunya tidak menurunkan daya tarik dari lagu ini sendiri. Intro dibuka oleh permainan melodi gitar oleh Jeff dan disambut dengan drum fills oleh Chuck. Tidak perlu waktu lama bagi kita untuk mendengarkan suara Natasha Bedingfield dalam lagu ini karena selain mendapat porsi yang banyak, sejak verse pertama lagu ini dinyanyikan secara bersahut-sahutan oleh Pierre dan Natasha dimana pada verse pertama Natasha menyahuti lyric yang dinyanyikan Pierre dan pada verse kedua Pierre menyahuti lyric yang dinyanyikan oleh Natasha. Kalau ingin memilih bagian terbaik dari lagu ini maka bagian tersebut ada pada bagian chorus terakhir dimana Pierre bernyanyi dalam suara 1 dan Natasha bernyanyi dalam suara 2 menjadikan ini sebagai salah satu kolaborasi terbaik yang pernah ada. Suara seorang Natasha Bedingfield memang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya dan Ia kembali menunjukkan kualitas vokalnya dengan bernyayi dalam nada-nada tinggi pada bagian chorus terakhir. Dengan lyric yang melukiskan tentang sepasang kekasih yang terpisah jarak dan waktu, lagu ini bisa menjadi sebuah soundtrack yang sempurna bagi mereka yang sedang menjalani Long Distance Relationship.
Music video untuk lagu ini sudah direlease melalui official Youtube channel Simple Plan pada tanggal 4 May 2011. Music video untuk lagu ini berhasil merepresentasikan lyricnya dengan sangat baik dimana digambarkan Pierre berada di airport bersiap untuk pergi ke negara dimana kekasihnya berada sementara Natasha Bedingfield digambarkan berada di dalam kamar hotel menunggu sang kekasih untuk pulang. Tidak ketinggalan ada scene dimana para personil Simple Plan ngeband didalam airport dengan orang lain berlalu lalang disekitar mereka. Secara keseluruhan Jet Lag bisa dikategorikan sebagai salah satu lagu terbaik Simple Plan maka tunggu apalagi, sambil menunggu album barunya release mari kita sama-sama menikmati single ini terlebih dahulu !!
official website
Lihat videonya disini

+ Single of The Day: Britney Spears – I Wanna Go



Britney Spears merilis single ketiganya yang berjudul “I Wanna Go” dari album studio ketujuhnya yang berjudul “Femme Fatale”. “I Wanna Go” telah dirilis sebagai digital single pada tanggal 13 Juni 2011 oleh Jive Records dan tanggal 22 Juni dipilih sebagai tanggal premiere Music Videonya.
“I Wanna Go” merupakan sebuah lagu dance-pop yang ditulis oleh Shellback bersama Savan Kotecha dan Max Martin. Lirik yang dinyanyikan dalam lagu ini adalah berulang-ulang dan singkat, meskipun demikian vokal Britney yang dibawakan dengan sedikit meleset dari tempo justru membuat lagu dengan irama cepat ini menjadi memiliki ciri khas, tentunya tipikal Britney.
Salah satu track unggulan dalam album “Femme Fatale” ini berpotensi menjadi salah satu single yang memorable pada tahun 2011. “I Wanna Go” telah menduduki posisi #73 pada U.S. Billboard Hot 100.
Official Website Britney Spears
Lihat Music Videonya disini

+ Single of The Day: All Time Low – I Feel Like Dancin’


Beranggotakan empat orang personel, yaitu Alex Gaskarth, Jack Barakat, Zack Merrick, Rian Dawson, All Time Low yang dibentuk pada tahun 2003 ini membuka single mereka dengan petikan gitar dan tabuhan drum yang bersemangat, yang tentu saja akan membuat kita penasaran dengan lagu baru mereka secara keseluruhan.
I Feel Like Dancin’ yang berdurasi 3:01 dan dirilis oleh Interscope Records ini ditulis Gaskarth bersama Rivers Cuomo, pentolan dari band terkenal Weezer. Sepintas lagu ini akan mengingatkan kita dengan lagu I Love Rock ‘n’ Roll-nya Joan Jett & the Blackhearts – terutama dalam permainan gitarnya – namun seiring dengan berjalannya lagu, jelas single yang satu ini akan kembali membawa kita mendengarkan karya All Time Low seperti biasanya. Turut diproduseri oleh para produser handal seperti Mike Green, Matt Squire, dan Butch Walker yang telah sukses menangani band dan penyanyi lainnya, yang jelas lagu ini dapat membuatmu bergoyang karena iramanya yang sangat danceable dan menyenangkan, benar-benar khas anak muda.
Dengan liriknya yang cukup mudah untuk disenandungkan dan diingat, lagunya sendiri mengisahkan tentang seseorang yang berpesta dan berdansa tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Dalam bagian verse-nya pun cukup unik, dimana mereka sedikit berbicara tentang Ke$ha yang memang adalah penggila pesta dalam “Everybody gettin’ kinda crunk / I think some dude just grabbed my junk (Whoa)
 / Now I know how Ke$ha must be feelin’ (Like, what is with everyone?)
.” Video musik dari lagu ini pun juga menghibur dan mengandung pesan satir – walau berbeda dengan liriknya – yaitu tentang mereka sebagai sebuah band memandang industri musik yang ada saat ini; dengan adegan-adegan yang tidak kalah lucu tentunya.
Sudah mulai tertarik dengan band yang satu ini? Kalau begitu, yuk ikut berdansa dan menggila bersama All Time Low!
Lihat videonya disini

+ Single of The Day: Nicki Minaj – Super Bass


Bagi rapper nominator Grammy, Nicki Minaj, tampil menyegarkan adalah harga mati. Sehingga saat single terbaru Nicki dirilis, ‘Super Bass‘, orang-orang pun takjub dan terpesona atas kesegaran yang diciptakan melalui musiknya, uniknya vokal Nicki, juga tampilan video yang superb. Pantas aja lebih dari 1,6 juta view dituai dalam 2 hari penayangan videonya, menjadikan lagu karya Nicki bersama Ester Dean ini sebagai salah satu hit tersukses Nicki.
Single up beat yang berlangsung selama 3 menit 20 detik ini punya gaya khas cewek yang girly abis. Ini adalah jualan Nicki yang utama, membedakan dirinya dari berbagai nama rapper hip-hop yang telah ada. Enggak salah album “Pink Friday” bisa mendapat sertifikat platinum di US dan diunggulkan dalam ajang Billboard Music Awards 2011 untuk ketagori album hip-hop. Super hot beat with super hot vocal. Kemampuan Nicki nge-rap dan bernyanyi sekaligus adalah anugerah.
Dirinya membawa kita bersenang-senang lewat lagu ini. Kita enggak bisa ngelak untuk ikut bergoyang saat mendengarkannya, apalagi saat melihat videonya. Video yang dibuat berkolasi di “The Pinkslam Nation” dengan pink pool, ice-made stereos, dan motorbike, mengukuhkan keinginan untuk ikut bergoyang semakin menjadi.
Kalau kalian sedang kesengsem dengan seseorang, pasti akan merasa excitement yang sama dengan Nicki di lagu ini. Jantung berdegup kencang hingga nyaris terdengar sama orang-orang sekitar. Berbunyi heboh sesuai hook “boom, badoom, boom, boom, badoom, boom, bass“.
Lihat videonya disini.

+ Single of The Day: Coldplay – Every Teardrop Is A Waterfall


Coldplay bisa jadi salah satu band beraliran rock alternatif paling besar saat ini, sehingga tidak heran materi baru dari mereka akan selalu ditunggu dan mendapatkan ekspektasi yang besar. Jika diawal karirnya, nama mereka selalu dilekatkan dengan Radiohead, maka dalam perkembangannya tampaknya Coldplay mengambil jalan yang sama dengan superband asal Irlandia, U2, yang mengeksplorasi musikalitas mereka dalam skala yang lebih grande dan megah. Every Teardrop Is A Waterfall mungkin adalah contoh sempurna untuk itu.
Agak sedikit mengingatkan akan pola Viva La Vida, namun dengan mengambil sampel dari lagu I Go To Rio milik Peter Allen, single ini adalah sebuah harmonisasi antara vokal, aransemen musik dan juga passion dalam bermusik yang besar. Dengan pace dalam tempo yang berderap, gitar akustik dan elektrik yang saling menimpali, Every Teardrop Is A Waterfall, adalah semua yang terbaik yang kita bisa andalkan hadir dari Coldplay.
I turn the music up, I got my records on / From underneath a rubble sing a rebel song /Don’t want to see another generation drop / I’d rather be a comma than a full stop.” Seolah-olah dengan ini Coldplay megajak kita untuk terserap bersama musiknya dan sejenak melupakan sekitar dan kemudian bergabung bersama euforia semangat mereka yang menggebu, cerah dan ceria, penuh dengan warna-warni. Jika memang itu yang diniatkan, maka bisa dibilang usaha mereka cukup berhasil.
Vokal Chris Martin yang khas seolah memuaskan kerinduan kita akan lagu baru mereka yang menyenangkan dan single ini bukan pengecualian. Dengan komposisi yang matang, Every Teardrop Is a Waterfall adalah sebuah lagu antemik yang memiliki lirik indah dan iringan gitar akustik merdu dan gitar elektrik yang menggugah. Sekali lagi Coldplay menghadirkan sebuah lagu pop yang berkelas.
Lihat videonya disini.

+ Album of The Day: Pitbull – Planet Pit (Deluxe)



Sangat dibanggakan prestasi Pitbull yang diperolehnya lewat album “Rebelution”. Khususnya di Indonesia, dimana album tersebut mencetak penjualan gemilang. Apalagi kedatangan Pitbull di Jakarta dengan kondisi tiket habis terjual, namanya menjadi salah satu artis papan atas di negara kita. Makanya, saat album terbaru “Planet Pit” dirilis, kita jadi semakin yakin kalau album ini bisa lebih menaikkan nama Pitbull lebih tinggi dari sebelumnya. Musiknya lebih menggertak, artis yang diajaknya berkolaborasipun semakin banyak.
Belakangan, rapper yang bernama asli Armando Christian Perez ini sungguh tidak pernah berhenti mencetak hits. Tidak hanya atas namanya pribadi sebagai main artist, tapi juga untuk artis lain sebagai featured artist. Itu yang membuat namanya enggak pernah absen dari top chart. ‘Hey Baby (Drop It To The Floor)’ contohnya. Lagu yang menampilkan T-Pain ini mengambil sample lagu ‘Push It’ milik Salt’N'Pepa berhasil masuk jajaran Top 10 di US Billboard Hot 100. Dan lebih dari itu, single ‘Give Me Everything’ dengan penampilan khusus dari Ne-Yo dan Nayer, diproduseri oleh Afrojack, membawanya ke posisi yang pernah diraihnya lewat lagu ‘I Know You Want Me’. Kalau orang bilang mempertahankan lebih susah daripada mencapai, lihat apa yang telah Pitbull pertahankan dalam karir musiknya. Single ini pun berhasil menjadi juara di Inggris dan Kanada, juga di banyak stasiun radio tanah air, termasuk Creative Disc Top 50.
Pitbull menyengaja lagu-lagu dalam albumnya ini punya cita rasa masing-masing, sehingga setiap lagu terdengar stand out. Jadi, semuanya punya potensi untuk dijadikan single. Makanya dipilihlah nama-nama beken untuk memberi dampak dalam lagu-lagu tersebut. Chris Brown di ‘International Love’, Akon di ‘Mr. Right Now’, juga Nicola Fasano di ‘Oye Baby’. Kesemuanya membawa gaya masing-masing ke dalam musik Pitbull yang didominasi hentakan beat dan house music. Terwujudnya perilisan single ‘Rain Over Me’ yang menampilkan vokal Marc Anthony adalah sebuah pilihan yang tepat. Kita dikasih dengar lagi suara Latin powerful milik Marc dalam alunan musik meriah Pitbull. Tapi yang sedikit aneh adalah vokal Enrique di lagu ‘Come N Go’. Enrique tidak terdengar seperti Enrique. Vokal ceweknya justru yang lebih berasa.
Selain memperluas kolaborasi dengan para artis, di album ini juga ada beragam nama produser untuk mengerjakan album ini. Afrojack, RedOne, Dr. Luke, Benny Blanco, juga Jim Jonsin, DJ Frank E, Polow Da Don, Clinton Sparks dan masih banyak lagi. Mereka memberikan keleluasaan bagi musik Pitbull untuk nge-blend dalam olahan musik mereka. Seperti David Guetta yang hadir di ‘Something For The DJ’s’ dan Affect, Drop, DJ Buddha, dan Apster di lagu ‘Pause’. Keduanya hanya menyajikan Pitbull solo, dan itu tetap rame.
Untuk soal jago-jagoan, Pitbull memang ahlinya untuk beat yang kencang dan lirik yang cepat. ‘Took My Love’ dan ‘Where Do We Go’ membuktikan itu semua. Tapi enggak langsung cara satu-satunya membuat kita goyang adalah dengan keriuhan musik. Karena dalam lantunan yang cukup santai pun suasana party itu masih bisa tercipta. ‘My Kinda Girl’ yang menampilkan Nelly seolah menjinakkan Pitbull dan mengikuti permainan musik dengan cara Nelly. Dan ‘Castle Made Of Sound’ adalah lanjutan ‘Love The Way You Lie’ dan ‘Castle Walls’. Track yang satu ini terdengar sangat menjanjikan. Ini bisa banget jadi hit yang paling beda dari apa yang sudah pernah Pitbull sajikan sebelumnya.
Bagi rapper asal Miami, Florida ini, album “Planet Pit” adalah kompilasi sound merengue, freestyle, cha-cha-cha, Miami bass, hip hop, dan dancehall yang merupakan musik favoritnya saat masih kecil dulu. Sehingga kita juga bisa mendengarkan banyak hal yang fun di dalam album ini. Terutama track yang playful ‘Shake Senora’ bersama T-Pain dan Sean Paul, juga ‘Shake Senora (Remix)’ bersama T-Pain, Sean Paul, dan Ludacris. One of the hottest album in 2011.

+ Single of The Day: Lady Antebellum – Just A Kiss


Just A kiss’ merupakan single pop country dengan tempo yang slow. Lagu ballad ini di buka dengan dentingan piano, diikuti dengan suara ‘Hillary scot’ kemudian berganti dengan vocal ‘Charles Kelley’ yang masuk bersamaan dengan permainan drum pelan yang sedikit dramatis. Ketukan drum ini memberi warna tersendiri sebelum masuk ke Chours. Nah, untuk bagian Chours sendiri , seperti kebanyakan aransemen lagu Lady Antebellum , ‘Charles Kelley’ dan ‘Hillary’ akan nyanyi bersamaan dan saling sahut-sahutan. Kalau sudah masuk di bagian seperti ini , suasana romantispun akan terbangun dengan sendirinya karena disinilah kekuatan trio ‘lady Antebellum’. Ada chemistry yang sangat kuat dan luar biasa dari mereka bertiga, khususnya ‘Kelley’ dan ‘Hillary’ ketika nyanyi bareng. Selain itu ada nilai plus tersendiri untuk alunan music yang sebagian besar mendayu-dayu, serta lirik yang romantic dan terkadang sangat nyata untuk sebagian besar orang.
Dari segi lirik , ‘Just A Kiss’ gak kalah sweet dari lagu-lagu di dua album sebelumnya dan Cinta masih jadi tema utamanya. Lagu ini bercerita tentang pasangan ‘Joy’ dan ‘Braden’ yang gak mau terburu-buru menjalani love lifenya. Pasangan ini mau semuanya berjalan slow karena baru ketemu beberapa hari. Saking slownya si ‘Joy’ dan ‘Braden’ digambarkan cukup puas hanya dengan ‘a goodnight kiss’.
“Just a kiss on your lips in the moonlight / Just a touch of the fire burning so bright / I don’t want to mess this thing up / I don’t want to push too far.”

Secara keseluruhan, Liriknya menggambarkan macam-macam situasi yang terhadi kalau kita menghadapi satu hubungan baru seperti ; perasaan excited yang sangat besar seperti istilah ‘butterfly in my stomach’ , perasaan menggebu-gebu, perasaan jatuh cinta yang sulit di hindari dan bahkan feeling yang merasa ‘(S)He is The One’. Disisi lain , dalam lagu ini jelas digambarkan ada perasaan galau yang terbentuk karena ketakutan semuanya berantakan hanya gara-gara menjalani hubungan secara instan dan cepat. Well, it sounds familiar right? Wajar saja, karena lirik lagu ini terinspirasi dari pengalaman pribadi personel ‘Lady Antebellum’ yang mungkin pernah kamu alamin sendiri.
Untuk menikmati lagi ‘Just A Kiss’ ini, cobalah untuk jangan terlalu membanding-bandingkannya ‘need you now’. Kenapa? karena kalau kalian terlalu melihat kehebatan ‘Need You Now’, kalian tidak akan bisa melihat betapa manis dan menyentuhnya lagu “Just A Kiss” ini. Last but not least, lagu ini ngasih pesan kalau ‘good things are worth waiting for’. Hal-hal yang baik emang harus menunggu, seperti kita yang harus menunggu album terbaru “Lady Antebellum” , “Own The Night” yang rencannya akan dirilis bulan September nanti.

+ Album of The Month: Lady Gaga – Born This Way


Seperti yang sudah diduga, kehadiran Born This Way pun sudah dinantikan dengan antusiasme yang tinggi oleh para monster penggemar Lady Gaga. Keberhasilan dalam segi penjualan dalam minggu pertamanya (sampai saat ini sudah mencapai kurang lebih 2 juta kopi untuk peredaran global) mungkin bukan indikasi mutlak akan kemumpuni album ini. Lantas, bagaimanakah dengan materi yang ditawarkan Gaga dalam Born This Way sebenarnya?
Berbeda dengan The Fame (2008), yang merupakan album debutnya sebagai Lady Gaga, kali ini Stefani Joanne Angelina Germanotta mulai bergerak kedalam ranah yang lebih gelap dan mengutilisasi sound-sound serta tema yang lebih gelap dan mungkin berat. Namun apakah ini berarti Born This Way kalah nge-pop dari album sebelumnya? Tidak juga.
Judas dikritisi karena terlalu mengambil pola Bad Romance dengan penuh, namun mereka lupa jika Bad Romance sendiri memakai pola yang telah diperkenalkan melalui Poker Face. Asumsi sederhana yang bisa kita tarik, Gaga hanya ingin menjadikan lagu ini sebagai ciri khasnya belaka. Namun kehadiran Born This Way sebagai single pertama yang sangat dipengaruhi oleh anthem pop 80-an (oke, nama Madonna kemudian dibawa-bawa disini), kita dapat merasakan keinginan Gaga untuk melakukan revivalitas terhadap dekade yang terkenal memiliki materi pop yang bagus itu.
Menilik Born This Way secara keseluruhan kita pun dapat merasakan keinginan Gaga tersebut, karena album ini memang dipenuhi oleh lagu-lagu yang jelas seolah-olah berasal dari tahun 80-an, dengan penggunaan synth dan pola harmoni yang banyak dipakai di era tersebut. Bukan hanya pop, akan tetapi pengaruh hair-rock yang kental pun dapat ditemui dalam album ini.
Hair, sebuah lagu lain tentang self-empowerment, mungkin bukti otentik untuk itu. Tentu saja rock yang kita bicarakan disini adalah dalam koridor Lady Gaga yang kita kenal umum, yaitu pemakaian elektro-pop yang masif dan melebur dalam setiap materinya. Bad Kids, Highway Unicorn (Road to Love), Heavy Metal Lover atau Electric Chapel dalah bukti dimana penggunaan distorsi gitar elektrik, drum yang mengentak dan juga tempo yang cepat dalam semangat rock yang eklektik terasa mendominasi.
Satu yang patut menjadi highlight adalah You And I, sebuah power-pop yang dibantu produseri oleh Robert John “Mutt” Lange dan dipengaruhi elemen rock ala honky-tonk dan vokal Gaga yang menggelegar, seolah dia terlahir sebagai Queen of Rock. Jelas, jika hadir di dekade yang berbeda, ia pasti akan memilih rock sebagai karir musiknya. Sebenarnya tidak aneh juga, karena toh bukankah para artis glam-rock seperti David Bowie, Elton John dan Queen adalah nama-nama yang mempengaruhi musikalitasnya?
Born This Way tidak hanya berbeda bukan saja hanya dikarenakan semangat nge-rock Gaga, juga motivasinya untuk memelintir lirik-lirik yang motivasional dan juga subtil. The Edge of Glory sebuah nomor pop-rock (80-an tentu saja) yang memiliki lirik yang manis dan romantis, mengingat ini adalah lagu yang ditulis Gaga untuk mengenang kakeknya yang telah tiada. Kesan romantis ditambah pula dengan penggunaan solo saxophone oleh Clarence Clemons dari The E Steet Band.
Sementara itu nuansa Jerman dalam nomor techno Scheiße dan Latin dalam Americano yang unik menambah semarak album ini. “I can’t speak German but I can if you like,” demikian ujarnya dalam Scheiße sedang dalam Americano dia seolah fasih berbahasa spanyol,” Mis canciones son de la re-revolución. Mi corazón me duele por mi generación“. Mungkin Gaga tidak bertendensi menjadi kultural dengan kehadiran nomor-nomor berbau etnik ini, akan tetapi jelas memberi penekanan yang lebih berwarna pada albumnya.
Meski masih setia untuk berkolaborasi dengan mitra lawasnya, RedOne, namun Gaga juga tampaknya terbuka untuk uluran kerjasama dari nama-nama baru, seperti Garibay dan DJ White Shadow. Kehadiran nama-nama inilah yang membuat Born This Way terasa sangat segar dan cukup berbeda dari album The Fame maupun The Fame:Monster. Seolah-olah ingin membuktikan bahwa ia tidak hanya berniat mengemas album pop yang ringan namun cukup berkelas tanpa harus kehilangan ciri khas yang telah melekat pada dirinya.
Born This Way mungkin bukan jenis album yang bisa langsung disukai pada kesempatan dengar pertama, karena jujur saja ia memerlukan sedikit waktu untuk dapat dicerna secara penuh. Dan percayalah, setelah mendekam cukup lama diotak, adalah susah untuk mengusir lagu-lagunya dari benak kemudian. Estetika bermusik dan komersial selalu sejalan bagi Gaga.

+ Album of The Day : Simple Plan – Get Your Heart On


Simple Plan, band asal Montreal, Canada yang sudah 2x mampir ke Jakarta untuk menggelar konser, pada tahun 2011 ini kembali dengan merelease album ke-4nya yang berjudul Get Your Heart On. Setelah merelease album ke-3nya pada tahun 2008 silam, Simple Plan seperti hilang dari peredaran walaupun mereka masih melakukan tour di beberapa negara namun nama mereka tidak banyak terdengar antara tahun 2009-2010 dan akhirnya pada tahun 2011 awal mereka mengumumkan bahwa mereka akan merelase album terbaru mereka pada tanggal 21 Juni 2011. Lagu promotional pertama yang mereka release adalah You Suck At Love dan juga sempat mereka bawakan Live di beberapa konser mereka pada tahun 2010 lalu. Seperti apakah lagu-lagu dalam album terbaru mereka ini? Mari bersama-sama kita simak satu persatu.
Melihat lebih jauh ke dalam album yang berisi 11 lagu ini, Get You Heart On diproduseri oleh Brian Howes dan sebagian besar lyric dalam lagu ini ditulis oleh Pierre Bouvier sang vokalis serta Chuck Comeau sang drummer. Kalau pada album ketiga mereka mencoba untuk menawarkan sesuatu yang terdengar lebih dewasa baik dari segi musik maupun lyric dengan lagu-lagu seperti Save You dan Your Love is a Lie, maka pada album ini mereka kembali menawarkan sesuatu yang fun seperti pada album pertama dan kedua mereka dimana album ini diisi oleh lagu-lagu upbeat dan mudah dicerna. Album dibuka oleh lagu berjudul You Suck At Love yang musiknya dipenuhi oleh distorsi gitar namun dalam kadar yang pas sehingga tidak terkesan berisik. Lagu ini berhasil menjadi cerminan untuk lagu-lagu lainnya dalam album ini sehingga sangat tepat ditempatkan sebagai track pertama. Lagu kedua ada lagu berjudul Can’t Keep My Hands Off You yang direlease sebagai single pertama untuk album ini, dimana Simple Plan mengajak serta vokalis Weezer Rivers Cuomo. Lagu ini masih berada dalam ranah Pop Punk seperti kebanyakan lagu-lagu Simple Plan lainnya, hal yang sukses mencuri perhatian adalah pada bagian verse dimana diisi oleh suara tepuk-tepukan tangan sehingga memberikan nuansa yang cukup unik untuk lagu ini. Track ke-3 ada lagu berjudul Jet Lag dimana Simple Plan mengatakan bahwa inilah ‘the real official single’ untuk album ini. Dalam lagu ini Simple Plan mengajak serta Natasha Bedingfield dan hal itu membuat lagu ini menjadi sempurna karena dengan lyric yang bercerita tentang sepasang kekasih yang terpisah jarak dan waktu, lagu ini paling pas apabila dinyanyikan oleh pria dan wanita. Salah satu track terbaik dalam album ini. Track ke 4 ada sebuah track berjudul Astronaut dimana versenya dinyanyikan oleh Pierre hanya dengan diiringi oleh gitar acoustic dan instrumen lainnya mulai masuk ketika lagu masuk ke bagian chorus. Lagu ini sedikit menginatkan kita akan lagu Perfect dari album pertama mereka sekaligus salah satu lagu terbaik mereka. Track ke 5 ada Loser Of The Year yang secara keseluruhan musiknya mempunyai kemiripan dengan You Suck At Love dimana lagu ini dipenuhi oleh bebunyian distorsi gitar dan dentuman drum dengan tempo yang cukup cepat. Inilah titik dimana kita menyadari bahwa lagu-lagu dalam album ini sebagian besar berada dalam koridor yang sama. 2 track selanjutnyapun yang berjudul Anywhere Else But Here dan Freaking Me Out yang mengajak serta Alex Gaskarth (vokalis All Time Low) masih mempunyai sound yang sama dengan You Suck At Love tetapi memasuki track ke-8, ada lagu berjudul Summer Paradise yang berhasil memberi penyegaran dimana Simple Plan mengajak serta K’Naan yang kita kenal melalui lagu Waving Flagnya. Dalam lagu ini Simple Plan sedikit memasukkan unsur folk ke dalam musiknya sehingga membuat lagu ini terdengar berbeda dengan lagu-lagu lainnya dalam album ini.Salah satu lagu terbaik dalam album ini. Satu lagu lagi yang bisa dikatakan outstannding adalah lagu berjudul Last One Standing yang berada pada track ke-10. Intro dibuka oleh permainan melodi gitar yang menawan dan apabila tanpa kehadiran suara Pierre yang cukup khas rasanya sulit mengatakan apabila Simple Planlah yang membawakan lagu ini.Lagu inilah yang bisa menjadi cerminan bagaimana Simple Plan sebenarnya mengalami perkembangan dari segi musik dan tidak hanya selalu menyajikan sesuatu yang sama.
Secara keseluruhan album ini masih berada dalam ranah Pop Punk yang memang sudah diusung oleh Simple Plan sejak kehadiran mereka di industri musik sehingga kesan bahwa Simple Plan tidak menawarkan sesuatu yang berbeda dalam album ini memang tidak bisa dipungkiri akan muncul tetapi memang itulah yang kita selalu nantikan dari Simple Plan bukan? Lagu-lagu mereka yang fun, upbeat dan catchy. Berdasarkan alasan tersebut, saya rasa tidak ada alasan untuk melewatkan album ini, Get Your Heart On guys !!

+ Single of The Day : Paramore – Monster



Monster merupakan single pertama Paramore sejak keluarnya Josh dan Zac Farro desember lalu. Sejak keluarnya Josh dan Zac Farro dari Paramore desember lalu banyak yang meragukan akan kredibilitas dari Paramore di masa mendatang karena sejak album pertama Hayley dan Joshlah yang berperan besar dari mulai menulis lyric hingga mengkomposisi musiknya. Dengan perginya Josh, bisakah Hayley dibantu oleh Taylor dan Jeremy mempertahankan konsistensi Paramore di industri musik? Single Monster inilah jawabannya.
Melihat lebih jauh kedalam lagu berdurasi 3:18 ini, tampaknya ungkapan ‘Paramore is still a band’ benar adanya karena walau hanya dengan 3 personil Paramore berhasil mempertahankan konsistensinya dalam bermusik. Dilihat dari segi musik, lagu ini masih berada ranah yang sama dengan lagu-lagu Paramore lainnya namun nuansa dark lebih terasa dalam lagu ini ditambah dengan lyric yang menyiratkan akan sesuatu sehingga bisa menimbulkan enterpretasi yang berbeda untuk setiap orang yang mencoba untuk mengartikannya. Dilihat dari struktur musiknya, sekilas mengingatkan akan lagu Decode yang juga merupakan soundtrack untuk film Twilight. Intro dibuka oleh melodi gitar electric yang diberi efek distorsi diikuti oleh bassline khas Jeremy ketika lagu memasuki verse. Memasuki chorus sound berubah menjadi lebih keras dengan distorsi gitar yang mendominasi ditambah oleh suara Hayley yang powerful. Sebuah hal yang patut diberi perhatian adalah bagaimana Taylor yang baru bergabung dengan Paramore sejak tahun 2007 berhasil menjalankan tugasnya sebagai lead gitar menggantikan Josh Farro dengan baik dan tidak menghilangkan ciri khas Paramore.
Lagu Monster ini sudah bisa didengarkan melalui official channel Youtube Fueled By Ramen sejak 2 Juni lalu dan hanya dalam waktu seminggu sudah hampir mendapat 2 juta views. Melihat begitu besarnya animo dari para penngemarnya tampaknya memang Parawhore(sebutan untuk penggemar Paramore) sudah tidak sabar untuk mendengar album ke 4 mereka yang rencananya akan direlease akhir tahun ini. Jadi,sambil menunggu kedatangan mereka bulan Agustus nanti dan releasenya film Transformers bulan Juli nanti, mari kita sama-sama menikmati Monster dari Paramore !!
Trivia : Salah satu media musik international sempat ‘berkicau’ di Twitter dengan mengatakan bahwa lagu ini ditujukan untuk Josh dan Zac Farro, namun sejauh ini belum ada konfirmasi mengenai benar atau tidaknya berita tersebut namun kicauan media musik tersebut di-ReTweet oleh Hayley.

+ Album of The Day: Lemonade Mouth – Lemonade Mouth



Sepertinya memang enggak ada bedanya musik yang ditampilkan oleh Lemonade Mouth (LM) di album debut mereka “Lemonade Mouth” ini dengan apa yang ditawarkan oleh kumpulan Jonas Brothers dan kawanan Camp Rock. Sebagai sesama produk Disney, mereka menawarkan teen pop rock dengan keceriaan tersendiri yang tersisip dalam vokal mereka. LM adalah sebuah sebuah film televisi yang diangkat dari novel fiksi karya Mark Peter Hughes, menampilkan bintang-bintang muda yang enggak sekedar sedap dipandang mata, tapi juga punya bakat musik yang mereka tawarkan sebagai sebuah band. Bridgit Mendler (lead singer), Adam Hicks (keyboard), Hayley Kiyoko (lead guitar), Naomi Scott (bass), dan Blake Michael (drums) adalah isi dari LM ini.
Sebagai satu kesatuan, band ini cukup solid, meskipun kebersamaan mereka pada dasarnya hanyalah berupa karakter dalam FTV ini. Tapi toh musik yang mereka hasilkan nyatu. Dengarkan ‘Turn Up The Music’, ‘Determinate’, dan ‘Breakthrough’ yang asli bikin ikut jejingkrakan menikmati hentakan musiknya. Apalagi ada kejutan berupa rap di lagu ‘Breakthrough’ yang membuat band ini beda. Dan meskipun Bridgit Mendler berperan sebagai vokalis utama, tapi setiap anggota band lainnya juga punya kog kemampuan vokal. ‘Someday’, ‘She’s So Gone’, dan ‘More Than A Band’ membuktikan hal tersebut.
Dalam ceritanya, LM ini punya saingan. Band yang bernama Mudslide Crush dengan Chris Brochu sebagai pemeran front-man-nya. Dua buah track yang mereka hadirkan di album ini adalah ‘An The Crowd Goes’ dan ‘Don’t Ya Wish U Were Us?’ yang masing-masing sangat komunikatif dan provokatif. Kebayang dong bagaimana anak-anak LM harus berhadapan dengan band saingan mereka ini? Tapi mereka juga enggak kalah kog. Karena LM punya lagu-lagu yang oke punya. ‘Here We Go’ dan ‘Livin’ On A High Wire’ yang penuh semangat dan pastinya membuat meriah suasana.
LM cukup berhasil dalam tayangannya. Oleh karena itu mereka akan dibuatkan sekuel. Dan semoga saja music producer untuk album soundtrack-nya nanti lebih memperhatikan keberadaan song writers papan atas yang menulis lagu untuk mereka. Supaya mereka juga berkesempatan untuk ngehits di chart. Dan kalau dilihat-lihat dari album ini, yang berpotensi jadi hit sepertinya ‘More Than A Band’. Lagu ini enggak hanya punya melodi yang indah, tapi juga lirik yang menggugah.

+ Single of The Day: Joe Jonas – See No More



Enggak ada keharusan bagi seorang anggota band yang hendak bersolo karir untuk menampilkan jenis musik yang serupa, atau paling tidak mirip dengan apa yang ditampilkan oleh band-nya. Dan inilah yang dibuktikan seorang Joe Jonas lewat single andalannya, ‘See No More‘ yang sudah dirilis sejak 13 Juni yang lalu. Lumayan mengejutkan, karena jauh dari bayangan musik yang dibuat oleh Jonas Brothers, maupun Joe dalam Camp Rock. Babak baru dalam buku musik Joe yang melepas embel-embel poprock dan beralih ke pop R&B.
Untuk mewujudkan rekaman ini, Joe dibantu oleh produser musik Brian Kennedy, yang memang dikenal atas karya musiknya di ruang lingkup R&B. Juga kehadiran performer, Chris Brown sebagai co-writer, sekaligus memberi vokal latar dalam lagu ini. Hasilnya? Secara nyata menyulap keberadaan Joe Jonas sebagai idola remaja dalam hentakan drum menjadi artis yang mendewasa dalam alunan beat R&B. Sebuah transisi yang sangat kentara, dan berhasil.
Menghadapi putusnya sebuah hubungan memang berat. Ada kalanya kita yakin terhadap keputusan yang diambil, tapi ada juga waktu dimana kita ragu. Inilah inti dari ‘See No More’, menunjukkan perasaan Joe dalam menghadapi berakhirnya hubungan cinta, dan berusaha keras untuk menerimanya. Tampilan lagu ini dalam video klip? Dramatis! Joe dan pasangannya ditampilkan secara terpisah, seolah dirinya masih dihantui oleh kehadiran si gadis. Hingga akhirnya api membakar habis semua kenangan dan angin membawa pergi semua memori. This could be a hit, this SHOULD be a hit!
Lihat videonya disini.

+ Album of The Day: All Time Low – Dirty Work



Bisa disimpulkan bahwa spesialisasi band All Time Low adalah penyemangat. Musik mereka yang meledak-ledak secara nyata menggambarkan corak anak muda yang kental dengan kesan rebel dan cuek. Pop punk mereka dalam album keempat “Dirty Work” pun lepas dari semangat itu. Justru semakin menabalkan nama mereka pada jalur tersebut. Apalagi sekarang Zachary Merrick, Alex Gaskarth, Rian Dawson, dan Jack Barakat berada di bawah major label, Interscope/Geffen yang membuat mereka mendapat banyak arahan dalam bermusik dari produser-produser seperti Butch Walker, John Fields, juga The-Dream dalam mengkreasikan album ini.
Single andalan ‘I Feel Like Dancin” adalah sesuatu yang sangat menghibur, dimana Alex Gaskarth dibantu oleh Rivers Cuomo dalam menciptakan lagu ini. Hasilnya? Tentunya sebuah lagu yang atraktif dengan dinamika khas Rivers Cuomo di bagian chorusnya. Untuk kamu yang berfikir bahwa memenangkan kontrak bersama label besar adalah tujuan akhir dari band ini dalam menciptakan musiknya, hapus jauh pikiran itu. Karena konsekuensi camput tangan produser sedikit banyak menentukan kemana album ini akan berarah. Ada pop sound yang terlibat di lagu ‘No Idea’ (T Nash dan C Stewart) dan ‘Forget About It’ (J Fileds) yang cukup berdampak sebagai faktor pembeda. Tapi rekomendasi utama dari saya dalah ‘Time Bomb’ yang dikreasikan bersama Matt Squire. Nama ini memang enggak asing dengan mereka, karena sudah hadir di rekaman yang sebelumnya. Track ini asli jempolan. Sangat berpotensi menjadi hit!
Yang tak terelakkan dari rekaman ini adalah kemeriahan musik khas anak band yang dekat dengan suasana ribut. Pilih ‘Do You Want Me (Dead?)’, ‘Under A Paper Moon’, dan ‘Just The Way I’m Not’ yang ditampilkan selayaknya menyuarakan suara hati anak muda. You can shout to, you can get crazy to. Namun, tersedia juga momen santai tapi tidak hening sehingga kita enggak kehilangan semangat yang menggebu-gebu tadi. ‘A Daydream Away’, ‘Return The Favor’, dan ‘That Girl’ yang cocok buat telinga pendengar yang masih butuh penyesuaian untuk musik gaya anak band.
Mungkin pasar yang mereka tuju dikhusukan pada anak remaja yang hobby nge-band, mungkin mereka ingin merasakan sukses Boys Like Girls yang menciptakan album rekomendasi terbaik di musim panas tahun lalu, atau mungkin mereka berada dalam titik perkenalan dengan pasar musik yang lebih luas terkait dengan keberadaan mereka sebagai artis dari label besar sekarang. Apapun kemungkinan itu, kerja keras mereka patut kita kasih acungan jempol dan apresiasi sebesar-besarnya pada keteguhan bermusik empat anak muda asal Baltimore ini.

+ Album of The Day: Beyoncé – 4

Image and video hosting by TinyPic
Bukannya saya hendak melarang untuk berekspektasi terhadap album ini, tapi apa yang didapat dalam sebuah album berjudul “4″ milik Beyoncé ini adalah memang jauh dari fierness yang boleh didapat dari album sebelumnya. Penekanan terhadap rasa “Beyoncé” dengan porsi yang lebih banyak dibanding rasa “Sasha Fierce” yang membuat rekaman ini beda. Yang pasti, kita masih tetap disuguhkan vokal berkarakter nan powerful, dengan lirik yang menggugah. Dan sajian itu pasti sudah cukup memuaskan.
Banyak yang terjadi sebelum “4″ ini ada. Dimana Beyoncé mengambil cuti setahun dari kegiatan musiknya untuk memaknai hidup dan menikmatinya sebagai sesuatu yang membuatnya merasakan hidup sebagai manusia biasa, berpisah dari manajeman sang ayah, dan mengelola musiknya sendiri. Inilah yang membuat rekaman ini menjadi sangat mandiri. Dengarkan jeritan hatinya lewat ‘I Was Here’ yang sejatinya menggambarkan kesediaannya untuk berdiri di atas kaki sendiri dan tidak membiarkan rasa takut menghalangi.
Inspirasi lainnya yang Beyoncé dapat adalah semangat goyang dari Afrika, yang disebut Tofu Tofu alias bodyshaking yang ditampilkan dalam ‘Run The World (Girls)’ yang sound music-nya membuat kita berasa di Afrika. Beberapa lagu lain yang bisa mengajak kita berdansa adalah ‘Countdown’ dan ‘End Of Time’ yang enggak kalah menggairahkan. Nah, sesi dance ini yang sepertinya minim dan membuat beberapa orang kurang puas dan ingin lebih.
Kesempatan untuk menginsert musik soul, funk, pop, dan R&B dari era 70 dan 80 adalah kualitas lain dari “4″ yang bisa dinikmati di ‘1+1′, ‘I Care’, ‘Love On Top’, dan ‘I Miss You’. Meskipun kewenangan ada di tangan Beyoncé dalam pemilihan lagu di dalam album ini, tetap saja credit harus dilayangkan kepada para produser, pencipta lagu, musisi, dan setiap profesional yang terlibat di dalamnya. Kemampuan untuk memuaskan dahaga Beyoncé dalam aktualisasi diri lewat album ini adalah hasil yang patut diacungi jempol.
Di album sebelumnya, saat kita dibuat bertanya apakah Beyonce akan sanggup membuat sebuah rekaman sebesar ‘Irreplaceable’ dari “B’Day”, ternyata ada ‘Single Ladies’ dari “I Am…Sasha Fierce” yang sanggup menjadi jawaban untuk pertanyaan itu. Dan kembali, pertanyaan tersebut akan terlontar. Menyikapinya, Beyoncé punya pernyataan tersendiri. Bahwa dirinya tidak harus membuktikan apa-apa kepada siapapun. Dan itu yang membuat dirinya merasa bebas untuk berekspresi dalam album ini. Tapi, 2 hit besar tersebut bukan tercipta dari single pertama di masing-masing album, sehingga masih terbuka kemungkinan kalau “4″ juga akan punya massive hit sendiri. If I was the one to pick, aku akan pilih ‘I Was Here’ balada indah ciptaan Diane Warren yang luar biasa!
Kenikmatan lainnya yang dapat dinikmati adalah ‘Party’ yang dibawakan bersama Andre 3000 & Kanye West. Bukan salah satu favorit, tapi paling enggak keberadaan rap di dalam album ini dibutuhkan untuk menyirnakan rasa bete yang kemungkinan bisa tercipta setelah mendengarkan 4 track pertama yang adalah lagu-lagu slow. Juga ‘Best Thing I Never Had’ yang membuat kita membuka mata untuk enggak terlalu menyesali sebuah perpisahan. Beyoncé punya kata-kata yang enggak biasa untuk membuat kita percaya kalau satu pintu tertutup, pintu lainnya akan terbuka. “you showed your ass, and baby I saw the real you”
Enggak usah ragu untuk mengoleksi album ini. Rilisan Sony Music Indonesia adalah deluxe edition 2cd yang juga berisi track ‘Lay Up Under Me’, ‘Schoolin’ Life’, ‘Dance For You’ ditambah dengan bonus sample parfum HEAT milik Beyoncé. Meskipun awalnya adalah sebuah kompromi, album ini akan cukup memuaskan. Dan jikalau masih ada yang merasa ganjal, mengingat kebiasaan Beyoncé yang merilis ulang album dalam edisi-edisi lain, masih ada kemungkinan untuk “4″ memuaskan selera kita!

+ Single of The Day: Chris Brown & Justin Bieber – Next To You



When stars collide, massive thing will happen. Ini kejadian saat 2 nama besar gabung di 1 lagu. Chris Brown dan Justin Bieber menyanyikan lagu karya The Messingers di album terbarunya Chris, “F.A.M.E”; rilisan Juni 2011, ‘Next To You’. Lagu cinta ini mendobelkan segalanya yang ada padanya, vokal yang menggoda, musik yang menarik, lirik yang meyakinkan, dan gerakan dance dalam video klipnya. Maklum, Chris dan Justin menjadi expert dalam urusan performance. Dan keduanya masih dielu-elukan sebagai idola remaja masa kini.
Beat R&B yang sedap didengar telinga mengawali lagu, mengantarkan pada sesi musik yang lebih meriah, terutama strings sectionnya. Olahan musik yang sedap ini melatari duet vokal Chris-Justin yang berbagi peran di setiap bagian; verse, pre-chorus, chorus, juga bridge. Mereka juga berbagi waktu untuk melakukan improvisasi. Itu definisi dari klop disini. Hal lainnya yang stand out di lagu ini adalah vokal latar ke-Afrika-Afrika-an yang muncul sedari verse kedua. Dan di outro, menyanyikan lirik “oh na na” yang terkesan cuplikan lagu ‘What’s My Name’ dari Rihanna.
Udah nonton video klipnya belum? Yang durasinya seperti film pendek itu. Memang sengaja demikian, Chris pengen supaya tampilan videonya juga seheboh kolaborasi mereka. Melibatkan kerusakan dalam tema akhir dunia. Disinilah masing-masing Chris dan Justin membuktikan apa yang dinyanyikan mereka dalam lirik kepada pasangan masing-masing. “When the sky is falling I’ll be standing right next to you“. Yang heboh lainnya tentunya tari-tarian dari keduanya. Mereka menjadikan langit yang hendak runtuh sebagai atap, jalanan yang retak-retak menjadi lantai dansa, dan orang-orang yang berhamburan sebagai penyemangatnya.
Sebenarnya, ‘Next To You’ ini nyaris sempurna. Yang mengganjal hanya cover art untuk single-nya yang kurang menarik. Ini mungkin bisa dimengerti, mempertimbangkan gambar-gambar yang ditampilkan dalam album “F.A.M.E”. Seandainya mereka menyediakan waktu khusus untuk melakukan satu foto studio bersama, pasti hasilnya akan lebih baik. Well anyway, in the end, it’s the song that matters!
Lihat videonya disini.

+ Album of The Day: Bad Meets Evil – Hell: The Sequel.



Sejarah Bad Meets Evil dimulai di penghujung dekade 90-an, saat rapper Royce da 5′9″ berkolaborasi dengan Eminem untuk lagu berjudul sama dan terdapat dalam album The Slim Shady. Sayangnya, umur kerjasama ini tidak begitu panjang. Setelah beberapa lama kemudian, keduanya akhirnya berkesempatan untuk berkerjasama kembali, membentuk grup bernama Bad Meets Evil dan lahirlah EP Hell: The Sequel ini.
Eminem masih marah-marah. Rasanya ini merupakan ciri khasnya yang sulit untuk dihilangkan. Yang membedakan album ini dengan kebanyakan karya Eminem adalah kemasan hip-hop yang lebih “ringan” dan vokal rapping yang cenderung lebih kalem dan santai oleh Royce da 5′9″, sebagai penyeimbang muatan vokal yang terdapat dalam harmonisasi musikalitasnya. Tentu saja ada track yang diberi judul Lighter, Sebuah balada yang nge-pop dan manis, meski terasa sendu. Apalagi bantuan vokal Bruno Mars menambah kesan “manis” lagu ini. Indikasi ini adalah album yang lebih ringan dibanding karya-karya Eminem sebelumnya? Ditilik dari satu sisi, track ini mungkin yang terlemah, karena sedikit menyimpang dari atmosfir hip-hop yang kental memenuhi ruang album. Namun disisi lain, track ini berpeluang besar untuk disukai oleh pendengar yang lebih awam.
Meski begitu, sebenarnya album ini masih menyimpan gem lain, seperti Above The Law yang menampilkan vokal Claret Jai yang mengisi hook lagu ini. Sedang pada Fast Lane, yang juga merupakan single pertama untuk album ini, Royce da 5′9″ seolah membuktikan jika ia mampu dan pantas untuk disandingkan dengan Eminem. Pada track A Kiss, Eminem kembali kebiasaan lamanya untuk menjadikan rekan selebriti lainnya sebagai materi lagunya. Kali ini giliran Lady Gaga yang mendapat “kehormatan”.
Dengan mengadopsi konsep big band dalam Loud Noises, single ini terdengar seperti soundtrack untuk film petualangan James Bond untuk abad milenium baru. Terasa sedikit berlebihan dan tidak pada tempatnya, dimana vokal tamu Slaughterhouse justru terasa lebih mendominasi. Dengan Echo yang atmosperik, terasa sempurna sebagai track penutup pada EP ini. Sejatinya memang Echo dan juga track Living Proof terdapat dalam paket Deluxe, dimana untuk kemasan standar ditutup oleh track Loudnoise yang menampilkan Slaughterhouse tadi.
Hell: The Sequel mungkin adalah sebuah album rap/hip-hop yang cukup renyah untuk diikuti. Namun, jika dicermati ada sedikit inkonsistensi dalam pemilihan tone dan corak, sehingga terkesan duo Bad Meets Evil tetap ingin mempertahankan idealisme mereka, namun disisi lain seolah tak rela jika tak mengkutikan sentuhan kekinian yang tengah nge-trend.Sayangnya, perpaduan yang terjadi tak begitu lekat dan padat, sehingga ritme album terasa sedikit longgar. Masalahnya lagi, tidak ada benar-benar track yang standout dan memorable sehingga akan bertahan lama dalam benak ingatan pendengar. Apalagi gimmick pemakaian humor-humor kasarnya malah terasa ketinggalan zaman dan kurang kontekstual dengan era sekarang.
Meski begitu, sebagai sebuah EP hasil kolaborasi, Hell: The Sequel adalah bukti nyata bahwa dua ego yang sama besarnya bisa saja saling mendukung alih-alih menjatuhkan. Kekompakan duo Eminem dan Royce da 5′9″ cukup teguh dan pas takarannya, sehingga kita tidak merasakan pergesekan kepentingan dan juga dualitas ataupun dominasi yang kerap menjegal konsep album duo yang utuh.

+ Single of The Day: Selena Gomez & The Scene – Love You Like A Love Song



Tampaknya, kesuksesan Who Says merasa perlu untuk disusul oleh single Love You Like A Love Song yang merupakan rilisan kedua untuk materi single bagi album ketiga Selena Gomez & The Scene, When the Sun Goes Down. Apa sih keistimewaan single ini sehingga kumpulan ini merasa penting untuk melepasnya sebagai salah satu andalan untuk mempromosikan albumnya?
Ditulis oleh Antonina Armato, Tim James, dan Adam Schmalholz, Love You Like A Love Song adalah sebuah elektro-pop yang mengandalkan hook dalam chorus yang adiktif. Beat-beatnya tidak rapat akan tetapi malah terasa berat dalam volume. Kesan flat dapat kita temui dalam melodinya, apalagi Gomez bernyanyi dengan improviasi yang nyaris nol dan auto-tunes pun seolah menjadi asisten yang setia.
Tidak heran jika nuansa dance kental di single ini karena Rock Mafia hadir memproduseri. Tapi bukan itu saja yang membuat single ini menjadi cukup menarik untuk disimak, terlepas dari banyak nilai minusnya. Hook dalam chorus yang mengandalkan gimmick repetisi suku kata umumnya memang terkesan dangkal dan cari aman, akan tetapi justru berhasil untuk membuat kuping pendengar teracuni olehnya dan kemudian susah untuk mengeluarkan dari benak. Siapa yang bisa menolak mantera “I, I love you like a love song, baby / And I keep hittin’ re-peat-peat-peat-peat-peat” Nah, berbekal itulah Love You Like A Love Song ini menjadi sangat adiktif.
Beberapa lagu dimaksudkan sebagai sebuah bentuk seni dengan musikalitas tinggi, sedang banyak lagu lainnya memang dibuat hanya untuk memikat hati agar terhibur, meski mempunyai komposisi yang klise atau malah corny. Nah, Love You Like A Love Song dari Selena Gomez & The Scene ini bisa masukkan pada kategori kedua. Meski sebenarnya tidak terlalu istimewa, akan tetapi sebagai lagu yang ditujukan untuk kalangan remaja dan juga musim panas, single ini pun mencapai targetnya.
Lihat videonya disini.

+ Lady Gaga Showcase in Singapore


Image and video hosting by TinyPic
Sekitar pukul 19.00 waktu Singapore, Marina Bay Sands Expo Convention Centre sudah ramai di penuhi oleh fans nya gaga dari Singapore dan beberapa Negara tetangga seperti Indonesia dan Malaysia. Padahal pintu masuk baru di buka pukul 19.30. dan show di mulai pada pukul 20.00. Saya sendiri baru ke lokasi sekitar puku 19.30, seperti biasa dengan penjagaan yang ketat dan melewati banyak pintu akhirnya saya masuk juga ke lokasi kejadian, tempat yang begitu khusus dirancang untuk para monster dengan suasana panggung yang begitu intim. Menurut perkiraan saya penonton yang hadir di showcase ini ada sekitar 2000an, dan sedikit informasi showcase ini bukan untuk umum, jadi kalo mau tiket masuknya harus daftar di Singtel’s AMPed website.
Sedikit meleset dari jadwal, showcase pun di mulai pukul 20.30, Lady Gaga keluar dari sebuah kandang besar berbentuk lentera merah. Lalu dia membawakan hits Born This Way sebagai pembuka, dengan ke delapan dancer nya yg sedang tertidur dan ia menari-nari seperti seorang yang telah menemukan nyawa dan memberikan nyawa kepada dancer nya untuk menari bersamanya. Di lanjutkan ke lagu ke 2 nya yaitu Just Dance pun di bawakan dengan full dance dance and dance. Sebelum masuk lagu ketiga, Gaga sedikit menyapa penonton dan memberikan joke joke yang menghibur. Di lanjutkan dengan lagu ke tiganya Telephone dan di lanjutkan lagi dengan hits yang di ambil dari album yang sama, the fame monster yaitu Alejandro. Di lagu Alenjandro, Gaga menampilkan dance dance yang cukup erotis tapi buat saya itu indah.
Sebelum masuk ke lagu yang ke 5, ada sedikit interval dimana mungkin lady gaga sedang mengganti kostumnya. Dan ternyata benar, Gaga muncul dengan kostum yang berbeda. Lalu dia menuju ke pianonya dan duduk manis, sambil memainkan piano ia sedikit bercerita tentang lagu yang akan di bawakan. Dia bercerita bahwa ini untuk pertama kalinya ia membawakan lagu ini, sebuah lagu yang menceritakan rambutnya yang tak ingin di potong oleh ibunya semasa muda dulu. Dia membawakan lagu ini sambil memainkan rambutnya dan penuh dengan emosi sehingga di tengah lagu ia sempat menitikan air mata. Yep, It’s Hair!
Dilanjutkan lagu berikutnya yaitu You and I, di sini Lady Gaga benar benar tampil seperti rockstar yang sedang gila. Sambil bermain piano dan bernyanyi, ia juga merobek robek stocking jala nya. Ia juga banyak berinteraksi dengan gitaris nya, dan benar benar berlagak seperti penyanyi rocker.
Ada sedikit interval lagi sebelum masuk ke lagu berikutnya, lalu dia keluar dengan kostum yang sedikit berubah dan setting panggung yang juga ikut berubah. Dia keluar sambil menyanyikan lagu berikutnya yaitu Bad Romance. Lalu di lanjutkan lagi dengan lagu berikutanya yang di ambil dari album terbarunya yaitu The Edge of Glory, yang di bawakan dengan penuh energi dan penuh interaksi dengan para monster.
Dan konser ini di tutup dengan Judas, sebuah lagu yang sudah di banned di mana mana tapi kami akhirnya bias melihat lagu itu dibawakan langsung dan itu amat sangat luar biasa. Gaga tampil dengan gila terlihat dari cara dia menari. Belum lagi di lagu ini dia menutup dengan manis sekali, dimana ia menunduk bersama para dancernya memberikan penghormatan lalu dia balik ke belakang sambil menyanyikan lagu yang tersisa. Cara dia kembali ke belakang panggung itu seperti rombongan gang yang pulang dari perang, tangan di acungkan ke atas dan bernyanyi nyanyi. Dan sumpah itu keren sekali.
Buat saya showcase itu sangat memuaskan selain saya bisa melihat aksi gilanya secara langsung, saya juga melihat dance nya yang begitu unik. Luar biasa lah …..
Song List:
1. Born This Way
2. Just Dance
3. Telephone/Alejandro
4. Hair
5. You & I
6. Bad Romance
7. The Edge Of Glory
8. Judas

+ Single of The Day: Colbie Caillat – Brighter Than The Sun


Mendayu-dayu. Bukan itu lagi sebutan untuk seorang Colbie Caillat. Dirinya yang sukses membuat kita ikut merasakan setiap emosi dalam alunannya, kini mengajak kita untuk ikut bergoyang dalam melodi ceria single terbarunya, ‘Brighter Than The Sun‘ yang sudah dirilis sejak 23 Mei yang lalu. Single ini adalah hasil kreasi Colbie Caillat dengan produser kondang, Ryan Tedder. Jadi enggak ragu kan dengan lagunya. Karena memang keduanya handal dalam penulisan lagu dan menampilkannya. Belum lagi ciri Ryan yang sangat terasa dalam beberapa beat di lagu ini, mengingatkan pada beberapa karya sebelumnya, seperti ‘Good Life’. It’s good. Karena punya benang merah dari setiap karya adalah sesuatu yang belum tentu dimiliki oleh setiap orang.
Apa yang dibawa dalam sebuah ‘Brighter Than The Sun’ adalah kegembiraan yang terpancar dari cerianya musik, juga lirik yang menggambarkan indahnya sebuah hubungan asmara. Ini memang kisah pribadi Colbie dengan sang kekasih, Justin Young, yang adalah pemain gitar di band pengiringnya. Suasana meriah juga dihadirkan dalam video musiknya. Disini Colbie tampil dengan sebanyak mungkin musisi, sebanyak mungkin orang yang goyang dengan iringan musiknya, dan sebanyak mungkin senyuman yang ikut membuat kita bahagia menyaksikannya.
Sebagai single kedua dari album ketiga, “All For You”, lagu ini khusus dipilihkan Colbie untuk membuat para pendengar jadi penasaran pada apa yang akan disediakannya dalam albumnya nanti. Menarik bukan?! Yang lebih asyiknya dari ‘Brighter Than The Sun’ ini adalah kita enggak hanya diajak untuk ikut goyang bareng, tapi juga nyanyi bareng di bagian chorusnya. Lagunya memang persuasif. Membangkitkan gairah dan semangat!
Lihat videonya disini.

+ Album of The Day: Adam Lambert – Glam Nation Live



Kualitas suara Adam Lambert enggak usah disangsikan lagi. Dia jebolan ajang American Idol yang saat berkompetisi harus bernyanyi live setiap pekannya. Kemampuan vokal tersebut dan aksi panggung juga sudah dilakoninya sebelum ikutan idol, makanya kebolehannya secara eksklusif direkam dalam bentuk CD DVD “Glam Nation Live” yang diambil dari penampilannya di Clowes Hall, Indianapolis, Indiana. Tempat ini bersejarah bagi dirinya, karena di kota inilah Adam lahir 29 tahun silam. Tentu, selain teriakan khas Adam yang menggema di tempat konser, suguhan glamor tampilan dan kegilaan aksi panggung adalah hiburan yang top banget.
Iring-iringan lagu ‘For Your Entertainment’ sebagai intro yang langsung diikuti dengan ‘Voodoo’. Penempatan lagu ini di awal cukup membangun suasana antusias dan histeria. Sebagai credit, Adam ikut menulis lagu yang hadir di lagu yang ada dalam Tour Edition debut albumnya itu. Selanjutnya kehebohan berkanjut dengan sound yang riuh dan tempo yang cepat dalam lagu ‘Down The Rabbit Hole’. Great party starter. Tapi Adam enggak mau menghabiskan semua energi itu di bagian awal, dia kendurkan lagi susasana dengan ‘Ring Of Fire’ yang dulu pernah dibawakannya di American Idol. Lagu ini memang membawa nuansa santai, tapi enggak lama dari situ kita dilibas lagi dengan sound yang glamor dalam ‘Fever’. Lagu yang diciptakan Lady Gaga ini semakin panas saat ditampilkan live oleh Adam. Bagian satu ditutup oleh interlude ‘Tribal Segment’.
Terkadang, beberapa lagu akan mendapat feel tambahan ketika dibawakan secara live. I found that in ‘Sleepwalker’. Lagu ciptaan Ryan Tedder ini menjadi lebih hidup saat Adam dan vokalnya yang gila menyanyikannya dengan performa maksimal. Hal lain yang menghibur adalah di beberapa lagu, sesaat sebelum Adam mulai bernyanyi, dia sedikit banyak bercerita tentang lagu yang akan ditampilkannya. Seperti ‘Whataya Want From Me’. Dirinya berinteraksi dengan penonton dan sedikit ngasih tau pandangan dalam lagu tersebut, kemudian menyanyikannya secara akustik. Begitu juga dengan ‘Soaked’ dan ‘Aftermath’. Sesi akustik agaknya disengaja disini. Sayang saja, karena menurutku ‘Aftermath’ jika dibawakan dengan versi instrumen akan jauh lebih panas. Dan interlude kedua ‘Jamming With Lazers’ menandakan berakhirnya sesi ini.
Enough acoustic, and let’s rocking! ‘Sure Fine Winners’, ‘Strut’, dan ‘Music Again’ mengajak kita jejingkrakan heboh dan nge-dance mengikuti glamornya konser Adam ini. Meriah? Pasti. Ini seperti bagian puncak dari pagelaran musik “Glam Nation Live”. Adam pun berkesempatan mengenalkan band dan crew yang membantunya mewujudkan konser tur ini. Dan kemudian membawakan ‘If I Had You’ dengan bantuan para penonton dibagian akhir lagu. Maka choir massal pun terjadi. Sebagai penutup, lagu lawas ‘20th Century Boy’ dinyanyikan sebagai persembahan penutup penampilan heboh, riuh, dan penuh semangat ini. Paket CD DVD “Glam Nation Live” adalah obat sakit hati dari tidak mampirnya Adam ke Indonesia. Kita bisa lihat Adam dengan gambar yang jernih tanpa harus berdesakan untuk ngantri, dan bisa nonton konsernya setiap kali kita mau.

+ Single of The Day: Cobra Starship feat Sabi – You Make Me Feel



Dirilis pada 10 Mei lalu, You Make Me Feel… menceritakan tentang pencarian seorang lelaki terhadap sosok gadis yang merebut perhatiannya. Sabi sendiri mengisi peran sebagai wanita tersebut di lagu ini. Pada akhirnya, seperti semua lagu yang menggambarkan ketertarikan antara sepasang lelaki dan perempuan dalam sebuah kelab, lagu ini berakhir dengan interaksi antar muda-mudi yang sedang dimabuk cinta itu. Lagu yang ditulis oleh para personil Cobra Starship sendiri ini berdurasi 3:36 dan memiliki genre pop punk dengan beat yang menghentak juga danceable serta dihiasi synthpop sepanjang lagunya – yang dari intronya saja sudah berhasil untuk membuat siapapun bergoyang ketika mendengarnya!
Video klip dari lagu ini juga cukup unik, dimana terdapat photo booth dalam sebuah kelab. Yah, semua orang suka photo booth dan berdansa, bukan? Uniknya, dalam video klip yang menyuguhkan Robin Williams sebagai cameo ini juga menampilkan keriangan orang-orang yang berfoto dalam photo booth tersebut, dengan beberapa caption yang kira-kira menggambarkan perasaan orang-orang tersebut – yang bisa juga disambungkan dengan lirik yang Saporta nyanyikan: “you make me feel that..” – yang tidak pernah selesai dan bisa berakhir dengan beragam pilihan itu.
Bagaimanapun juga, lagu yang satu ini sangat cocok untuk menjadi theme song pesta kalian di musim panas ini. Jadi, siapkah kalian untuk berjoget bersama Cobra Starship dan Sabi? – karena tentunya, mereka telah berhasil membuat kita ingin bergoyang!
LIhat videonya disini.

+ Album of The Day: Owl City – All Things Bright and Beautiful



Dengan memberi judul album ketiga Owl City dengan All Things Bright and Beautiful, Adam Young tampaknya ingin memberi semangat baru dalam musikalitas elektro-popnya. Alih-alih track-track murung dan gloomy, maka dialbum ketiganya ini Owl City menaikkan tempo iramanya dan juga memberi warna-warni yang lebih cerah. Namun, apakah lantas ini adalah album yang berbeda dari dua album sebelumnya? Tidak juga.
Untuk kalangan fans, dipastikan akan menyukai All Things Bright and Beautiful. Semua arketipe Owl City ada disini. Sound olahan synth dengan pemanfaatan efek-efek suara yang dipenuhi ambience masih mengisi setiap ruang lagu yang ditawarkan oleh album ini. Namun untuk memberi pembeda, Owl City juga menginfusi dengan asupan beberapa elemen sub-genre lainnya, seperti rock, folk dan juga hip-hop dan juga meningkatkan ritmenya dengan cukup tajam.
Vokal Adam Young memang tidak istimewa, namun khas, sehingga asosiasi terhadap Owl City bisa segera ditemukan sesaat setelah mendengar suaranya. Young tampaknya memahami hal tersebut, sehingga ia bergiat untuk memadukan vokal dan juga aransemen musiknya untuk tetap terjaga dalam koridor yang selama ini kita kenal. Ambil contohlah pada single pertama album ini, Alligator Sky, yang terdengar segar oleh imbuhan rapping Shawn Chrystopher, namun tetap saja kita dengan seketika menebak ini adalah lagu milik Owl City.
Eskalasi intensitas itu dapat ditemukan pula dalam Kamikaze, sebuah track up-tempo dengan pengaruh rock yang kental atau atau nomor disko Galaxies yang mengajak untuk berdansa-dansi. Uniknya, ditengah kedua track tersebut disisipi January 28, 1986, semacam interlude yang berisi potongan pidato mantan presiden Ronald Reagan setelah musibah kecelakaan pesawat ulang-alik Challenger berdurasi 38 detik.
Nomor paling cantik dialbum ini mungkin Honey and Bee, yang bergaya folk dan dibantu oleh vokal Breanne Düren, serta mereduksi banyak instrumen elektronika, membuat track ini terdengar sedikit berbeda dengan kebanyakan lagu yang ditawarkan oleh Owl City. Sementara itu, nomor subtil lainnya, Hospital Flowers adalah sebuah balada yang antemik, dalam versi Owl City tentu saja, sayang autotunes dalam vokal Young terdengar sedikit menjengkelkan.
Okelah, All Things Bright and Beautiful mungkin terdengar seperti judul yang dimaksud, terdengar lebih cerah dan juga cantik akan tetapi tidak ada benar-benar inovasi baru disini. Young masih bermain aman, dan entah dikarenakan enggan atau memang kurang paham dinamika musikalitas selain yang dikuasainya, sehingga jika ia benar-benar ingin bereksperimen diluar jalur yang ia kuasai, maka hal itu tidak tercapai. Satu hal lagi, Adam Young tampaknya harus lebih banyak lagi membaca untuk menambah perbendaharaan diksinya, karena ia tampaknya terus berputar-putar di pemakaian kata-kata yang sangat repetitif untuk liriknya. Ujung-ujungnya, pendengar diluar fans tidak akan menemukan sesuatu yang signifikan berbeda untuk membuat mereka jatuh cinta kepada estetika bermusik Owl City.
Akan tetapi, menurut saya album ini memang sebuah peningkatan musikalitas yang cukup berarti dari Owl City, karena sepanjang durasi 12 lagunya, saya cukup terhibur dan tidak merasa bosan, sesuatu yang saya rasakan cukup mengganggu pada saat menikmati album sebelumnya. Hanya saja, untuk selanjutnya Owl City harus berani bereksplorasi diluar wilayah amannya, jika benar-benar ingin eksis sebagai musisi sejati.

+ Single of The Day: Bad Meets Evil – Lighters (feat. Bruno Mars)


Dengan menggaet Bruno Mars yang sedang naik daun dengan lagu-lagu popnya, Bad Meets Evil dalam Lighters memiliki keistimewaan sebagai sebuah lagu dengan genre alternative hip-hop yang berbeda dari seluruh lagu yang ada di album tersebut. Mars mengisi bagian chorus dari lagu yang diselingi dengan rap dari Eminem dan Royce da 5′9” sendiri. Bisa dibilang, bagian Mars yang soft sangat kontras dengan rap dari Bad Meets Evil yang tough – sesuatu yang uniknya bisa disatukan menjadi lagu yang dengan mudah menempel di telinga.
Dirilis di radio pada awal Juli lalu, lagu dengan mid tempo yang juga memiliki unsur pop dan soul ini menerima banyak review positif juga negatif dari kalangan penikmat musik. Bagaimanapun, meski memiliki unsur musik yang berbeda, lagu yang cukup sukses di tangga lagu ini jelas merupakan lagu yang ‘manis’ dan enak untuk didengar bagi para penggemar musik hip-hop dan bahkan para pemula penyuka jenis musik yang satu ini karena kelebihannya di liriknya yang masih mudah dicerna serta nadanya yang lembut.
Lighters sendiri menceritakan tentang hasrat dua orang sahabat dalam mencapai mimpinya. Di samping segala jatuh bangun yang telah mereka lewati, mereka menyadari bahwa apa yang mereka lakukan sudah sesuai dengan harapan dan mereka tepat berada dalam tempat yang diinginkan di tempat mereka berpijak sekarang. Mungkin ini jugalah yang sebenarnya ingin disampaikan Eminem dan Royce da 5′9” kepada dunia dalam meniti kembali karir mereka bersama yang sempat terpuruk. Selain itu, mereka juga mengungkapkan ke berbagai media bahwa mereka ingin membuat sesuatu yang tidak biasa dalam dunia hip-hop lewat lagu ini.
Well, apapun itu, jika tidak percaya bahwa terkadang anak-anak ‘nakal’ dan ‘jahat’ masih memiliki sisi ‘baik’ di dalam hati mereka, maka kamu harus mendengarkan lagu yang satu ini!

+ Top 10 Music Videos: Lady Gaga

Sejauh ini Lady Gaga baru tampil dalam 12 video musik untuk singlenya sendiri dan 2 sebagai artis featuring. Dengan hanya bermodalkan 14 video, (seharusnya) tentu saja lebih mudah menentukan video mana saja yang (sepertinya) tampil lebih menarik daripada yang lainnya. Ternyata, tidak segampang itu. Video-video musik Lady Gaga ternyata menampilkan kompleksitas yang cukup berbeda satu sama lain juga keunikan tersendiri. Namun, tanpa menafikan keistimewaan masing-masing video, berikut 10 Video Terbaik Lady Gaga versi CD.Com dan juga polling yang sebelumnya telah dilempar melalui forum Twitter:

10. Just Dance
Album: The Fame
Just Dance adalah video musik pertama Stefani Joanne Angelina Germanotta sebagai seorang Lady Gaga sekaligus single pertama untuk album The Fame. Videonya disutradarai oleh Melina Matsoukas dan tampil dengan cukup sederhana. Berseting disebuh rumah suburban, videonya berisi suasana pesta yang bisa dikategorikan seadanya-secukupnya. Jujur saja, video ini tidak begitu istimewa dan kita dapat merasakan betapa low-budgetnya pembuatan video ini. Namun, kehadiran Gaga memang sudah menunjukkan kharismanya tersendiri. Meskipun belum tampil terlalu nyeleneh, akan tetapi penampilan uniknya sudah mulai membuat pandangan seolah lekat padanya. Apalagi singlenya sendiri memang mempunyai kekuatan adiksi yang masif. Colby O’Donnis dan Akon tampil sebagai bintang tamu. Lihat videonya.

09. Edge of Glory
Album: Born This Way
Edge of Glory awalnya hanya akan menjadi single promosi saja, namun dengan penerimaan yang sangat positif, maka Lady Gaga pun kemudian memutuskan lagu ini menjadi single ketiga untuk album Born This Way. Disutradarai oleh Haus of Gaga, sebuah tim kreatif yang bertugas untuk memformulasi penampilan Gaga. Tidak ada salahnya juga jika Gaga ingin memperluas ekspansi musikalitasnya. Namun, Edge of Glory termasuk salah satu video terlemah dari Gaga. Mungkin saja, sensasi era 80-an yang terdapat dalam lagunya nya cukup tersampaikan, dimana Gaga memakai atribut yang menujukkan decade tersebut. Bahkan angle-angle yang dipakai pun mengingatkan video-video music dari era 80-an. Akan tetapi terlihat cukup melelahkan juga sepanjang beberapa menit menyaksikan Gaga sendirian, diseting sebuah sudut jalan, berusaha menarik perhatian penonton. Absennya adegan tari yang ciamik juga mendukung kesan monoton video ini. Lihat videonya.

08. Love Game
Album: The Fame
Love Game mempunyai konsep yang cukup absurd, dimana Gaga terlihat mengeksplorasi sensualitas dirinya dengan cukup maksimal. Berisi gambaran-gambaran dimana Gaga bercumbu, tidak hanya dengan laki-laki, akan tetapi juga perempuan. Dan dengan ditampilkannya rekan percumbuannya sebagai figure otoritas (polisi), seolah-olah video yang disutradarai oleh Joseph Khan ini menggambarkan dominasi pihak tertentu dalam percintaan. Kesan liar dengan ditampilkannya penari-penari bergaya punk semakin menambah kesan edgy video ini. Adegan tubuh telanjang Gaga yang hanya berbalur semacam serbuk, terlihat begitu menggugah. Lihat videonya.

07. Alejandro
Album: The Fame Monster
Atribut militerisme menjadi penanda yang kuat bagi Alejandro. Dengan ditampilkannya pria-pria kekar berseragam, seolah memberi penekanan pada maskulinitas yang dominative. Namun disisi lain, pria-pria maskulin tersebut juga menampilkan sisi feminitasnya dengan melakukan tarian yang cukup lentik dan kenes. Seorang pria tampan terlihat memperhatikan tingkah laku Gaga yang ‘bercengkarama’ ala sadomasokis, bersama barisan penarinya. Penampilan Gaga yang berbusana ala biarawati Katolik yang dimodifikasi memang akan menimbulkan asumsi dan tafsiran yang bermacam-macam. Namun yang pasti, Alejandro yang disutradari oleh Steven Klein ini merupakan salah satu video Gaga terkelam, sekaligus sangat teatrikal, yang didukung pula dengan durasi yang cukup panjang. Lihat videonya.

06. Poker Face
Album: The Fame
Poker Face adalah single yang melejitkan nama Lady Gaga kepuncak kepopuleran. Videonya sendiri cukup sederhana. Disutradarai oleh Ray Kay, dariu segi artistic, video ini setingkat lebih baik dari single pertama Gaga, Just Dance. Selain itu Poker Face mulai menampilkan kreasi Haus of Gaga yang uni, seperti kacamata dengan layar LCD iPod yang digunakan oleh Gaga. Sesuai dengan irama lagunya yang ceria dan enerjetik, maka video ini juga tidak mempunya alur cerita yang terlalu simetris, melainkan hanya menampilkan keriangan yang sedang dilakukan Gaga bersama sekelompok temannya. Namun, penampilan ‘solonya’ bersama seorang laki-laki yang hanya menggunakan bokser terlihat cukup ‘menggoda’. Lihat videonya.

05. Born This Way
Album: Born This Way
Dibuka dengan music tema dari filmnya Alfred Hitchcock, Vertigo, Born This Way seolah-olah sebuah film fiksi ilmiah yang kelam. Monolog oleh Lady Gaga seolah menjadi sebuah propaganda yang absurd. Heck, eksan absurd memang yang terkenang saat menyaksikan video ini. Dengan tampilan dan riasan yang tak kalah absurdnya, justru menambah keunikan video yang disutradarai oleh Nick Knight ini. Seolah-olah penegasan bahwa unik itu mungkin berbeda akan tetapi merupakan bawaan dari lahir yang sulit untuk ditepikan, Born This Way tampil dengan enerjik. Kelebihan utamanya memang pada penampilan Gaga yang semakin berani saja bereksperimen dengan gaya dan sama sekali tidak takut tampil jelek. Dipenghujung, Gaga mengimpersonifikasi icon pop 80-an, dengan menggabungkan gaya Michael Jackson dan mimic ala Madonna. Lihat videonya.

04. Telephone (feat. Beyonce)
Album: The Fame Monster
Mungkin saja video ini akan menjadi favorit nomor bawah bagi penggemar Gaga, karena dengan durasi sepanjang 9:32 menit, Telephone seolah-olah merupakan sebuah film pendek ketimbang video music. Dan tidak ada salahnya juga, karena bahkan videonya sendiri dibuka ala sebuah film pendek. Tentu saja ini tidak aneh, karena sang sutradara, Jonas Åkerlund, telah melakukan treatment yang sama untuk video Gaga sebelumnya, Paparazzi. Pengaruh Quentin Tarantino sangat kental disini, apalagi dengan penggunaan Pussy Wagon yang juga terdapat dalam film Kill Bill. Berkisah tentang duo kriminil, Gaga dan Beyonce dengan segala plot hitam mereka. Sangat filmis sekali memang, namun tidak melupakan sensasi dance number yang seru. Perpaduan Gaga + Beyonce terasa pas takarannya. Lihat videonya.

03. Paparazzi
Album: The Fame
Paparazzi adalah kali pertama Lady Gaga bekerja sama dengan Jonas Åkerlund dan terus terang ide yang ditawarkan Åkerlund dalam video music ini cukup gemilang dan cerdas. Dengan struktur mirip sebuah film pendek, Paparazzi berkisah tentang gemerlapnya dunia selebritas namun ternyata dibalik semua itu terdapat intrik asmara yang sangat kelam. Menampilkan actor Alexander Skarsgård(dari serial popular True Blood), sebagai kekasih Gaga yang culas. Namun ternyata Gaga sendiri mempunyai agenda tersendiri untuk sang kekasih. Terus terang, Paparazzi adalah sebuah video yang sangat fun dan tidak membosankan untuk ditonton berulang-ulang. Kesan film mininya menambah nilai plus untuk video ini. Lihat videonya.

02. Judas
Album: Born This Way
Judas adalah upaya pertama seorang Lady Gaga untuk menyutradarai video musiknya sendiri. Dan bias disebutkan ia cukup berhasil untuk itu. Meski demikian ia tidak sendiri berada dibelakang layar, karena ada nama Laurieann Gibson bersama dirinya. Sesuai dengan tema lagunya, Judas menampilkan kisah Jesus, Maria Magdalena dan (tentu saja) Judas dalam versi yang lebih nge-rock dan punk-ish. Dibuka dengan serombongan geng motor, kemudian lokasi berpindah kesuatu tempat dimana kumpulan geng motor ini seperti tengah menghadapi polemic. Namun, tentu saja video berusaha menampilkan kegelisahan seorang Maria Magdalena, yang dalam versi Gaga terbelah cintanya antara Jesus dan Judas. Terlepas dari sensasi yang ditawarkan dalam penafsiran terhadap konteks lagu ini, video Judas ternyata cukup renyah untuk disimak. Apalagi koreografi tarinya tampil dengan sangat dinamis dan cantik. Patut dipuji juga aspek artistic yang ternyata cukup terjaga. Lihat videonya.

01. Bad Romance
Album: The Fame Monster
Dan pilihan paling favorit jatuh pada Bad Romance. Disamping lagunya yang memang sangat adiktif untuk didengar, konsep video Bad Romance sendiri memang juara dan terkonsep dengan cukup matang. Tabik patut kita sematkan kepada sang sutradara, Francis Lawrence. Francis yang kini juga tengah aktif di dunia film memang terkenal memiliki tangan dingin dalam mereka sebuah video music yang jenial. Dan Bad Romance bukan pengecualian. Dengan memakai mata ala anime, Lady Gaga terlihat freak namun sekaligus manis. Disudut lain, Gaga ditampilkan dengan make-up dan gaya yang natural, terlihat sangat cantik, sementara disudut lain, tentu saja ditampilkan dengan segala eksentrismenya. Yang paling juara memang tata koregrafi yang sangat memorable, termasuk kostum yang digunakan. Dengan ending yang mengejutkan, gelar video terbaik Lady Gaga pantas dipersembahkan kepada Bad Romance. Lihat videonya.